Setelah berbulan-bulan terisolasi dan nyaris mati kelaparan, ratusan warga Oleshky akhirnya berhasil menyeberang ke wilayah Ukraina. Operasi evakuasi besar-besaran ini menjadi momen kemanusiaan langka di tengah perang yang sudah berjalan lebih dari empat tahun.
Gencatan senjata lokal selama enam hari di kota yang diduduki Rusia itu tercapai berkat mediasi Ibu Negara AS, Melania Trump, dan bantuan Paus Leo XIV. Ini menjadi jeda pertempuran terpanjang sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut baik kedatangan warganya di wilayah Chernihiv. Ia pun berterima kasih kepada AS dan Ibu Negara atas peran mediasi tersebut, seraya menegaskan bahwa langkah de-eskalasi dan perdamaian nyata masih sangat dibutuhkan.
Para pengungsi tiba dengan tubuh lemah dan wajah lesu. Beberapa dari mereka mengaku harus bertahan hidup dengan memakan rumput dan labu liar karena pasokan makanan terputus sejak Mei. Seorang pria lanjut usia bahkan kehilangan 20 kilogram berat badannya dalam setahun terakhir akibat kelaparan.
Untuk mencapai wilayah Ukraina, warga Oleshky harus menempuh rute berliku: melewati Crimea, terbang ke kota Anapa di Rusia, lalu menuju Belarus sebelum akhirnya masuk ke Ukraina. Di perbatasan, mereka disambut poster bertuliskan 'Kamu tidak sendiri' dan 'Kami merangkul dengan hati kami'.
Meski gencatan senjata berakhir Minggu malam, sebagian warga memilih bertahan di Oleshky yang masih dilanda krisis gas, listrik, dan air bersih. Komisioner HAM Rusia, Yana Lantratova, berjanji akan terus berkoordinasi dengan pihak Ukraina untuk membantu mereka yang tersisa.
Analisis Dampak: Evakuasi ini membuktikan bahwa jalur diplomasi kemanusiaan masih bisa menembus kebuntuan perang. Namun, fakta bahwa warga harus memakan rumput dan kehilangan puluhan kilogram berat badan menjadi tamparan keras bagi komunitas internasional. Keberhasilan gencatan senjata lokal ini bisa menjadi cetak biru untuk jeda kemanusiaan di wilayah lain, asalkan kedua pihak konsisten menghormati kesepakatan. Di sisi lain, nasib warga yang memilih bertahan di Oleshky masih penuh ketidakpastian karena pasokan dasar belum pulih sepenuhnya.