BEIRUT, MEDIA ONLINE – Serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Minggu (20/4) menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 15 lainnya. Insiden ini langsung memicu ketegangan baru di tengah harapan kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat yang disebut-sebut akan segera ditandatangani.
Media pemerintah Lebanon melaporkan, serangan itu menghantam kawasan Dahieh yang dikenal sebagai basis kelompok Hizbullah. Militer Israel (IDF) mengaku menargetkan sebuah 'pusat komando' Hizbullah yang digunakan untuk meluncurkan 'target udara' ke arah Israel. Foto dari lokasi kejadian menunjukkan kerusakan parah di sekitar gedung yang menjadi sasaran.
Trump: Serangan Itu 'Kecil dan Tak Berarti'
Yang membuat situasi semakin rumit, serangan ini terjadi hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan damai dengan Iran akan ditandatangani. Trump langsung bereaksi keras. Melalui akun Truth Social-nya, ia menyebut serangan Israel itu 'seharusnya tidak terjadi', terutama di saat-saat genting menjelang kesepakatan damai.
"Israel punya hak untuk membela diri, tapi serangan yang mereka balas itu sangat kecil dan tidak berarti. Tidak ada yang terluka, apalagi tewas. Hal ini seharusnya tidak mengganggu proses penting ini," tulis Trump. Ia pun memperingatkan agar tidak ada lagi serangan dari pihak mana pun, baik Israel, Hizbullah, maupun Iran.
Iran: Bukti AS Ingkar Janji
Pernyataan Trump justru disambut sinis oleh Iran. Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran dalam perundingan dengan AS, menilai serangan itu sebagai bukti bahwa Washington tidak mampu menepati komitmennya. Seorang pejabat militer senior Iran, Brigjen Mohammad Jafar Assadi, bahkan mengancam bahwa serangan di pinggiran Beirut itu tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa balasan.
Di sisi lain, Israel menganggap serangan terhadap Hizbullah sebagai operasi yang terpisah dari konflik dengan Iran. Publik Israel sendiri disebut mendukung kelanjutan perang di Lebanon. Namun, jika Iran berhasil menghubungkan dua arena konflik ini, Israel bisa terpaksa menghentikan operasi militernya di Lebanon.
Analisis: Titik Rawan Baru di Timur Tengah
Serangan ini menjadi pukulan telak bagi upaya diplomasi yang sedang dibangun. Lebanon sendiri sudah terseret dalam pusaran perang sejak 2 Maret lalu, ketika Hizbullah meluncurkan roket sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Invasi darat Israel ke Lebanon selatan pun masih berlangsung hingga kini.
Yang menjadi kekhawatiran utama adalah jika Iran benar-benar menepati ancamannya untuk membalas. Hal ini bisa memicu eskalasi besar-besaran, menutup peluang damai yang sudah di depan mata, dan memperluas zona konflik di kawasan Teluk serta Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia.