Minggu ini, gejolak politik merebak di berbagai penjuru dunia. Di Iran, para pengunjuk rasa dicap 'teroris' oleh negara, dibarengi pemadaman internet dan lonjakan kekerasan. Sementara itu, di Amerika Serikat, skandal penembakan oleh petugas imigrasi mengungkap kebohongan pemerintah yang melibatkan media dan bahkan juru bicara berbasis AI. Hal ini memicu perdebatan kritis tentang kontrol narasi dan potensi bahaya teknologi AI.
Situasi di Iran semakin memanas dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah Iran menanggapi unjuk rasa dengan melabeli para demonstran sebagai 'teroris' dan 'perusak'. Retorika keras ini diikuti oleh kebijakan pemadaman internet yang meluas, mempersulit komunikasi dan akses informasi. Akibatnya, kekerasan meningkat tajam, dan jumlah korban tewas masih belum bisa dipastikan. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat pun turut meruncing, menambah panas suhu konflik yang kini menjadi salah satu gejolak politik paling serius di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.
Tidak kalah menghebohkan, di Amerika Serikat, insiden penembakan seorang perempuan di muka umum oleh petugas imigrasi dua minggu lalu telah menyeret pemerintahan ke dalam skandal kebohongan terang-terangan. Laporan resmi, media yang bersekutu dengan pemerintah, bahkan juru bicara yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) dikerahkan untuk membela penembakan tersebut. Peristiwa ini, yang dilaporkan oleh Ryan Kohls, bahkan dianggap luar biasa meski dengan standar kontroversial pemerintahan Trump kala itu.
Di sisi lain, narasi tentang kecerdasan buatan (AI) yang disebut-sebut 'tak terhentikan' dan teknologi yang harus dunia ikuti tanpa pertanyaan, kini mulai mendapat sorotan. Meskipun perusahaan-perusahaan menginvestasikan ratusan miliar dolar dan hype-nya terus meningkat, pengawasan terhadap AI justru semakin berkurang. Cory Doctorow, seorang penulis dan aktivis, mengingatkan tentang siapa sebenarnya yang mengendalikan cerita di balik AI dan mengapa 'revolusi' teknologi di masa lalu seharusnya menjadi pelajaran berharga.