Kota Kyiv, Ukraina, kini berjuang di tengah kegelapan dan dingin ekstrem. Serangan udara Rusia secara masif menargetkan infrastruktur energi, membuat separuh ibu kota tanpa listrik dan pemanas, bahkan gedung penting seperti Parlemen ikut gelap gulita.
Suhu di bawah nol derajat Celsius memperparah keadaan. Ledakan pipa air yang membeku menjadi pemandangan biasa, menambah penderitaan warga yang sudah kesulitan mencari kehangatan dan penerangan. Namun, di balik kegelapan, semangat pantang menyerah warga Kyiv terus menyala.
Anak-anak muda, misalnya, berkumpul di kafe dan bar yang ditenagai generator, mencari kehangatan, cahaya, dan hiburan. Ini bukan sekadar tempat nongkrong, tapi ruang penting untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan perang, seperti diungkap Karina Sema, seorang jurnalis muda. Mereka bahkan menyanyi bersama dengan penerangan senter, menunjukkan solidaritas yang kuat.
Warga juga tak kalah cerdik. Ada yang memanaskan batu bata di atas kompor bensin portabel untuk menghangatkan apartemen yang gelap. Ibu tunggal seperti Assiya Melnyk harus berjuang keras menjaga anaknya tetap hangat dan sehat, hingga penglihatannya terganggu karena terlalu lama memicing di kegelapan.
Situasi ini memukul telak sektor bisnis. Pemilik restoran seperti Enes Lutfia harus mengeluarkan hampir 500 dolar seminggu hanya untuk bahan bakar generator, sementara pelanggan sepi. Presiden Volodymyr Zelenskyy bahkan telah mengumumkan status darurat energi, menuding Rusia sengaja menjadikan musim dingin sebagai senjata perang. PBB pun mengutuk serangan ini sebagai pelanggaran hukum internasional yang kejam dan tindakan yang 'kejam'.
Kisah-kisah ini menunjukkan betapa beratnya hidup di Kyiv saat ini, namun juga menggambarkan ketangguhan luar biasa masyarakatnya yang tak gentar menghadapi ancaman, beradaptasi dengan cara-cara kreatif demi bertahan hidup.