CARACAS - María Corina Machado, tokoh oposisi Venezuela peraih Nobel Perdamaian, akhirnya kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun hidup di pengasingan. Dalam konferensi pers di Caracas, Kamis (waktu setempat), ia menegaskan bahwa transisi menuju demokrasi di Venezuela sudah tidak bisa dibendung lagi.
Machado menyebut pemilu akan digelar pada 2027, meski tanpa menyebut tanggal pasti. Ia juga berterima kasih kepada pemerintahan Trump yang disebutnya telah membuka 'gerbang kebebasan' lewat penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Menurutnya, langkah itu menjadi kunci yang memungkinkan ia kembali ke Venezuela.
Di hari yang sama, Presiden interim Delcy Rodríguez menyatakan komitmennya menggelar pemilu dan mengawal 'transisi besar' ini. Namun, Rodríguez tak kunjung menetapkan jadwal pemungutan suara. Machado pun menepis anggapan bahwa pemerintah interim logis untuk memimpin transisi.
Yang menarik, Rodríguez sempat menyinggung soal keterbukaan Venezuela bagi para eksil yang ingin pulang, serta menginstruksikan aparat keamanan untuk tidak menahan orang tanpa perintah pengadilan, kecuali dalam kasus kejahatan yang tertangkap tangan. Ia juga menawarkan dialog dan membangun konsensus.
Meski begitu, Machado mengaku belum menerima undangan atau pesan dari Rodríguez untuk bertemu. Ia juga memilih tidak terlibat langsung dalam negosiasi pemilu antara perwakilan oposisi dan pemerintah, namun berharap proses itu berjalan lancar demi reformasi badan pemilu agar semua warga Venezuela, di dalam maupun luar negeri, bisa menyalurkan hak suaranya.
Analisis Dampak: Kepulangan Machado menjadi sinyal kuat bahwa peta politik Venezuela bergeser. Bagi masyarakat, ini membuka harapan baru akan pemilu yang lebih adil, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang sebenarnya mengendalikan transisi? Di sisi lain, keterlibatan Amerika Serikat dalam penangkapan Maduro dan dukungan terhadap Rodríguez menunjukkan bahwa dinamika politik Venezuela tak lepas dari kepentingan geopolitik global. Masyarakat perlu mencermati apakah janji pemilu 2027 benar-benar terwujud atau hanya menjadi retorika politik belaka.