Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat makin memanas. Kamis dini hari, Iran secara tak terduga menutup sebagian besar wilayah udaranya untuk penerbangan komersial. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran serangan mendadak dari Presiden AS kala itu, Donald Trump.
Pembatasan wilayah udara berlangsung dua kali, yaitu antara pukul 01.45 hingga 04.00 pagi waktu setempat, dan dilanjutkan lagi dari pukul 04.44 hingga 07.00 pagi. Pemberitahuan mengenai penutupan ini diungkap oleh Otoritas Penerbangan Federal AS (FAA). Semua penerbangan komersial dilarang melintas tanpa izin khusus dari Organisasi Penerbangan Sipil Iran (CAO).
Saat pembatasan diberlakukan, layanan pelacak penerbangan FlightRadar menunjukkan hanya ada tiga pesawat yang melintas di atas Iran pada pukul 06.05 pagi, sementara puluhan lainnya terpaksa memutar di sekitar perbatasan negara itu. Wilayah udara Iran akhirnya dibuka kembali sekitar pukul 07.00 pagi.
Situasi ini bukan tanpa sebab. Ancaman serangan dari Donald Trump muncul setelah Iran melakukan tindakan keras yang mematikan terhadap protes anti-pemerintah di negaranya. Kekhawatiran makin menjadi setelah AS dan Inggris menarik sejumlah personel militer dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Penarikan ini mengikuti peringatan dari pejabat senior Iran yang menegaskan akan menargetkan pasukan AS di Timur Tengah jika Trump melancarkan serangan. Beberapa negara bahkan sudah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya di kawasan tersebut.
Meskipun Trump sempat meredakan retorikanya, mengatakan telah menerima jaminan bahwa pembunuhan demonstran di Iran telah berhenti, situasi tetap tegang. Organisasi keselamatan penerbangan OpsGroup, melalui situsnya Safe Airspace, memperingatkan bahwa penutupan wilayah udara semacam ini bisa menjadi sinyal 'aktivitas keamanan atau militer lebih lanjut'. Mereka juga menyoroti 'risiko peluncuran rudal atau peningkatan pertahanan udara, yang meningkatkan risiko salah identifikasi lalu lintas sipil'.
Mengingat sejarah kelam pada tahun 2020, ketika pertahanan udara Iran menembak jatuh pesawat Ukraine International Airlines sesaat setelah lepas landas dari Teheran, menewaskan 176 orang, kekhawatiran ini sangat beralasan. Laporan CAO Iran tahun 2021 menyimpulkan bahwa operator baterai rudal salah mengidentifikasi pesawat Ukraina sebagai 'objek musuh', dan para pejabat tidak mengevaluasi risiko terhadap pesawat komersial dengan benar di tengah ketegangan dengan AS saat itu.