Sosok kontroversial aktivis sayap kanan Inggris, Tommy Robinson, baru-baru ini menghebohkan publik setelah mengumumkan kunjungannya ke Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington DC. Dalam kunjungannya itu, Robinson, yang dikenal dengan retorika anti-Muslim dan gerakan anti-migran di Inggris, mengaku disambut hangat oleh sejumlah pejabat pemerintah AS serta pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA).
Bahkan, Joe Rittenhouse, seorang penasihat senior Biro Urusan Konsuler Departemen Luar Negeri AS, terang-terangan menyebut Robinson sebagai 'pejuang kebebasan berbicara' (free speech warrior) melalui unggahan di X, lengkap dengan foto kebersamaan mereka. Robinson sendiri melalui akun X-nya menyatakan kunjungan ini sebagai upaya 'membangun aliansi dan persahabatan'.
Meski demikian, Departemen Luar Negeri AS sendiri memilih bungkam terkait detail pertemuan, siapa saja yang ditemui Robinson, atau apa tujuan spesifik kunjungannya. Pihak Kedutaan Besar Inggris di Washington pun tidak segera memberikan komentar. Di Washington, Robinson juga sempat bertemu dengan influencer sayap kanan AS Jack Posobiec dan merekam video dengan Congressman Randy Fine, politikus Republik dari Florida yang juga dikenal dengan retorika anti-Muslim.
Kunjungan ini bukan peristiwa tunggal, melainkan memperkuat sinyal dukungan dari faksi konservatif AS, khususnya yang terafiliasi dengan pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, terhadap aktivis sayap kanan di Eropa. Dukungan ini kerap dibungkus narasi 'perlindungan kebebasan berbicara', namun di sisi lain sering dikaitkan dengan kritik keras terhadap kebijakan imigrasi negara-negara Eropa. Administrasi Trump, misalnya, pernah menuding Eropa melakukan 'penghapusan peradaban' akibat perubahan demografi dan budaya imbas kebijakan imigrasi yang dianggap lemah, pandangan serupa juga disuarakan oleh Wakil Presiden JD Vance.
Robinson sendiri, yang bernama asli Stephen Yaxley-Lennon dan merupakan salah satu pendiri English Defence League (sebuah gerakan protes jalanan sayap kanan yang kini telah bubar), menyatakan akan melanjutkan perjalanannya ke Florida setelah dari Washington DC. Kehadirannya di jantung kekuasaan AS memicu pertanyaan tentang arah diplomasi dan dukungan politik transnasional terhadap ideologi-ideologi yang di Eropa sering dianggap ekstrem.