Laporan terbaru dari Congressional Budget Office (CBO) mengungkap fakta mengejutkan: sedikitnya 81 pesawat militer Amerika Serikat rusak atau hilang selama Operasi Epic Fury, kampanye militer Washington melawan Iran yang dimulai awal tahun ini. Kerugian ini mencakup jet tempur F-15E Strike Eagle, satu unit F-35A Lightning II, pesawat tanker KC-135 Stratotanker, hingga 45 drone MQ-9 Reaper.
Estimasi biaya kerugian tersebut mencapai angka fantastis, yakni antara 1,9 miliar hingga 3,3 miliar dolar AS per 1 Agustus. Perang yang sudah berjalan hampir delapan bulan ini belum menunjukkan tanda-tanda gencatan senjata permanen, dan justru semakin membebani anggaran militer Negeri Paman Sam.
Harlan Ullman, mantan perwira angkatan laut dan ketua Killowen Group, menyoroti fenomena "asimetri perang" yang membuat negara kecil dengan militernya yang terbatas mampu melukai militer terkuat dunia. Menurutnya, Iran berhasil memanfaatkan target-target AS yang tersebar di Timur Tengah, terutama dengan drone murah yang kini semakin mudah diakses. "Bayangkan apa yang bisa dilakukan drone kecil terhadap aset militer besar. Kita sudah melihat contohnya di negara-negara Teluk selama konflik ini," ujarnya kepada Al Jazeera.
Ullman juga membandingkan situasi ini dengan perang Rusia-Ukraina, di mana Kyiv mampu menahan musuh yang lebih besar melalui perang drone. Bahkan, rumor serangan drone terhadap Pangkalan RAF Fairford di Inggrisâyang menampung aset AS selama perang Iranâmembuat selusin pesawat Amerika mendadak terbang meninggalkan pangkalan pada Minggu lalu. Hal serupa terjadi ketika AS harus memindahkan pembom B-1 dari Inggris karena khawatir serangan Iran.
Dampak politiknya pun mulai terasa. Pemerintahan Presiden Donald Trump menghadapi tekanan besar setelah mengajukan anggaran pertahanan rekor 1,5 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2027. Angka kerugian yang terus membengkak ini memicu skeptisisme di Kongres, yang mulai mempertanyakan efektivitas dan biaya perang yang tak kunjung usai.