Perancis – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, melontarkan kritik pedas terhadap negara-negara Eropa yang dianggapnya membiarkan gelombang migrasi besar-besaran terjadi. Pernyataan ini ia sampaikan saat pidato peringatan 82 tahun pendaratan D-Day di Normandia, Perancis, Kamis (5/6/2026).
Dengan nada sinis, Hegseth membandingkan semangat para prajurit Sekutu yang membebaskan Eropa dari Nazi pada 1944 dengan situasi saat ini. "Ironisnya, saat ini pantai-pantai yang berbeda di Eropa sedang diserbu oleh ideologi berbahaya yang berbeda. Pantai-pantai di Spanyol, Italia, Yunani, dan Bulgaria dipenuhi perahu dan orang-orang. Kapan negara-negara Eropa akan bertindak menghadapi invasi ini?" ujarnya.
Data mencatat, kedatangan migran melalui laut ke Eropa memang masih tinggi. Antara April 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 169.341 orang tiba secara ilegal melalui jalur laut ke Inggris, Yunani, Italia, Spanyol, dan Siprus. Dari jumlah itu, sekitar 23 persennya atau 38.948 orang merupakan imigran yang menyeberang Selat Inggris menuju Inggris Raya menggunakan perahu kecil.
Komentar Hegseth ini menjadi rangkaian kritik dari pemerintahan Trump. Sehari sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance mengaitkan kasus pembunuhan mahasiswa Inggris, Henry Nowak, dengan apa yang ia sebut sebagai "invasi massal migran". Pernyataan ini langsung ditolak keras oleh Kantor Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang menegaskan keluarga korban tidak ingin kematian Nowak dijadikan alat politik untuk memecah belah.
Analisis: Pernyataan Hegseth ini menegaskan kembali sikap keras pemerintahan Trump terhadap imigrasi ilegal. Dengan menyandingkannya dengan narasi heroik D-Day, ia sengaja membingkai isu migrasi sebagai ancaman eksistensial bagi identitas dan keamanan Eropa. Dampaknya, tekanan politik terhadap negara-negara Eropa untuk memperketat kebijakan imigrasi akan semakin besar. Hal ini juga berpotensi memperkuat partai-partai berhaluan kanan yang selama ini getol mengusung sentimen anti-imigran di berbagai negara Eropa.