Warga Gaza akhirnya menantikan pemilu legislatif pertama dalam dua dekade terakhir yang dijadwalkan pada 28 November mendatang. Bagi generasi muda seperti Ahmad Mohsen (24), momen ini menjadi harapan baru untuk memperbaiki hidup setelah hancurnya ekonomi dan infrastruktur akibat perang serta blokade Israel yang berkepanjangan.
Mohsen, lulusan keperawatan yang kini beralih jualan kartu internet, mengaku ingin para kandidat serius menangani masalah nyata: lapangan kerja, keamanan, perumahan, pendidikan, dan kesehatan. Ia berharap pemilu tidak sekadar seremoni, tapi benar-benar mengubah nasib rakyat. "Kandidat harus bicara dengan suara rakyat, bukan suara orang lain," tegasnya.
Senada dengan Mohsen, Ghassan Marwan (53) yang pernah mencoblos di Pemilu 2006 mengenang proses demokrasi saat itu berjalan transparan dan adil. Kini ia berharap pemilu kali ini bisa mengembalikan stabilitas dan memberi masa depan lebih baik bagi anak-anaknya. Tingkat pengangguran di Gaza yang mencapai 80 persen menjadi alarm keras bahwa pemilu harus menghasilkan perubahan konkret, bukan janji manis semata.