YEREVAN, ARMENIA – Armenia menggelar pemilihan parlemen yang menjadi ujian krusial bagi pemerintahan Perdana Menteri Nikol Pashinyan. Di tengah upaya rekonsiliasi dengan rival abadi, Azerbaijan, dan langkah berani menjauh dari bayang-bayang Rusia, rakyat Armenia memberikan suara mereka pada Minggu (20/6) waktu setempat.
Dua blok politik dan 17 partai bertarung dalam kontestasi ini. Bagi Pashinyan, pemilu ini bukan sekadar ajang mempertahankan kekuasaan, melainkan referendum atas arah baru kebijakan luar negeri negaranya. Sejak naik daun lewat protes jalanan besar-besaran pada 2018, Pashinyan getol mendekatkan Armenia ke Uni Eropa dan menjauh dari Kremlin.
“Uni Eropa adalah mitra utama kami dalam reformasi demokrasi, dan kami akan terus berada di jalur ini,” tegas Pashinyan usai mencoblos, seperti dikutip kantor berita Armenpress. Ia juga menekankan bahwa hubungan dengan Rusia tetap bersifat institusional dan saling menghormati, meskipun Moskow belakangan menunjukkan sikap dingin.
Ketegangan dengan Rusia memang meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir, Moskow memberlakukan pembatasan ekspor produk Armenia. Lebih dari itu, Presiden Vladimir Putin dan pejabat tinggi Rusia lainnya melontarkan ancaman terselubung, membandingkan langkah Armenia dengan nasib Ukraina yang kini terjerat perang.
Isu keamanan dan identitas turut mewarnai kampanye. Kekalahan Armenia dalam perang sengit dengan Azerbaijan pada 2023—yang berujung pada penguasaan wilayah Nagorno-Karabakh oleh Baku dan eksodus massal etnis Armenia—menjadi luka yang belum sembuh. Pashinyan justru menjual perdamaian abadi dengan Azerbaijan sebagai satu-satunya jalan keluar dari siklus konflik berkepanjangan.
Di sisi lain, oposisi yang sebagian besar vokal pro-Moskow memanfaatkan sentimen nasionalis dan kekecewaan atas kekalahan perang. Tuduhan kecurangan pun mencuat. Sehari sebelum pemungutan suara, penyidik mengeluarkan enam surat penangkapan untuk anggota partai Strong Armenia atas dugaan politik uang.
Analisis Dampak:
Hasil pemilu ini akan menentukan arah geopolitik Armenia di kawasan Kaukasus Selatan yang rapuh. Jika Pashinyan menang, proses rekonsiliasi dengan Azerbaijan berpotensi semakin cepat, namun risiko konfrontasi dengan Rusia pun akan meningkat. Sebaliknya, jika oposisi pro-Rusia menang, Armenia bisa kembali ke pangkuan Moskow dan mengorbankan hubungan yang sudah dibangun dengan Barat. Bagi Indonesia, konflik di kawasan ini mengingatkan pada pentingnya stabilitas rantai pasok energi global, mengingat jalur transportasi minyak dan gas dari Laut Kaspia melewati kawasan ini.