Madrid, Spanyol – Kunjungan Paus Leo XIV ke Spanyol tak hanya jadi agenda keagamaan, tapi juga panggung pertarungan ideologi. Paus secara gamblang mengkritik kebijakan imigrasi keras partai sayap kanan Vox, yang justru mengklaim sebagai pembela utama nilai-nilai Katolik.
Dalam pidatonya di parlemen Spanyol, Paus mengingatkan kembali ajaran 'Sekolah Salamanca' dari abad ke-16, yang menekankan perlunya melindungi martabat kaum tertindas, termasuk para imigran. Pesan ini jelas merupakan tamparan bagi Vox yang getol mengusung deportasi massal dan menolak pengungsi anak-anak.
Paus bahkan mengunjungi Pulau Gran Canaria, titik panas kedatangan imigran dari Afrika. Data Organisasi Internasional untuk Migrasi mencatat setidaknya 1.214 orang tewas atau hilang di rute Atlantik menuju Kepulauan Canary tahun lalu. Langkah ini berseberangan dengan kebijakan AS di bawah Trump, yang dikagumi oleh pemimpin Vox, Santiago Abascal.
Di sisi lain, Perdana Menteri Pedro Sanchez justru mendapat angin segar. Pemerintahnya baru saja membuka jalur legalisasi bagi 500.000 imigran gelap. Kunjungan Paus menjadi legitimasi moral bagi kebijakan inklusifnya.
Yang menarik, di tengah menurunnya jumlah penganut Katolik di Spanyol (dari 68% sepuluh tahun lalu menjadi 52,8% di 2025), justru terjadi kebangkitan identitas Katolik di kalangan Generasi Z. Data survei menunjukkan lompatan dari 31,6% menjadi 45% dalam lima tahun. Paus Leo XIV seolah menyasar langsung demografi baru ini dengan pesan sosial yang tegas.