Uskup Agung Timothy Broglio melayangkan protes keras terhadap rencana militer Amerika Serikat yang ingin menayangkan eksekusi mati Nidal Hasan secara langsung. Hasan adalah mantan mayor tentara yang divonis mati atas penembakan di Fort Hood, Texas, pada 2009 silam yang menewaskan 13 orang.
Dalam pernyataannya, Broglio menegaskan bahwa umat Katolik yang bertugas di militer wajib meminta pengecualian dari tugas regu tembak. Ia menilai aksi ini melanggar ajaran gereja dan mempertanyakan apakah AS ingin meniru gaya teroris dengan menjadikan pembunuhan sebagai tontonan barbar.
Rencana siaran langsung yang dijadwalkan pada 3 Desember mendatang ini digagas oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Ia berdalih tayangan ini penting sebagai efek jera agar publik paham konsekuensi berat dari kejahatan. Namun, kebijakan ini menuai kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk Kardinal Blase Cupich yang menyebutnya sebagai "barbarisme performatif" yang buruk bagi pendidikan anak-anak.
Kritikus menilai eksekusi ini berisiko besar. Selain dianggap tidak etis, penayangan kematian Hasan yang kini lumpuh dan berusia 56 tahun itu dikhawatirkan malah menjadi alat propaganda bagi kelompok anti-AS. Metode regu tembak ini sendiri terakhir kali digunakan militer AS pada era Perang Dunia II terhadap Eddie Slovik pada 1945.