BRENT TEMBUS $104! JALAN DAMAI IRAN-AS BUNTU? - Berita Dunia
← Kembali

BRENT TEMBUS $104! JALAN DAMAI IRAN-AS BUNTU?

Foto Berita

Kabar terbaru dari pasar komoditas bikin banyak pihak cemas. Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak hampir 2 persen pada Kamis kemarin, tembus angka 104 dolar Amerika Serikat per barel. Lonjakan ini terjadi setelah Teheran membantah keras laporan yang menyebutkan adanya negosiasi langsung dengan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump. Sebelumnya, pasar sempat bernapas lega setelah muncul kabar rencana perdamaian 15 poin, namun harapan de-eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran kini kembali memudar.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan media pemerintah hari Rabu lalu, menegaskan Teheran tidak sedang dalam pembicaraan langsung dengan Washington dan 'belum ada niat untuk bernegosiasi sekarang'. Di sisi lain, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan peringatan keras. Ia menyatakan Iran akan 'dipukul lebih keras' dari sebelumnya jika Teheran tidak menerima kekalahan militer.

Situasi ini bukan cuma soal adu mulut. Dampaknya sudah sangat terasa. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, harga minyak sudah meroket lebih dari 40 persen. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran—jalur vital yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia—ditambah serangan ke fasilitas energi di Timur Tengah, memicu lonjakan harga energi secara global. Akibatnya, banyak negara terpaksa menerapkan rasionalisasi bahan bakar dan langkah konservasi energi lainnya.

Para pengamat pasar memperkirakan harga bakal terus merangkak naik sampai kapal-kapal bisa melintas bebas di Selat Hormuz. Padahal, berbagai negara sudah berupaya menambah pasokan dengan mengerahkan cadangan darurat, bekerja sama dengan International Energy Agency. Namun, data dari perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan, lalu lintas harian di selat itu nyaris lumpuh. Pada Selasa lalu, hanya empat kapal yang tercatat melintas, jauh dibanding rata-rata 120 kapal per hari sebelum konflik.

Gelombang kecemasan ini turut mengguncang pasar saham Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang, KOSPI Korea Selatan, dan Hang Seng Index Hong Kong semuanya terpantau melemah pada pembukaan Kamis. Bagi masyarakat luas, kenaikan harga minyak artinya biaya transportasi naik, harga barang-barang kebutuhan ikut terkerek, dan potensi inflasi makin mengancam. Jika kondisi di Selat Hormuz tidak segera membaik dan ketegangan politik terus memuncak, dunia terancam menghadapi krisis energi dan ekonomi yang lebih parah.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook