Teheran, 17 April 2025 – Konflik berkepanjangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel akhirnya menemukan titik terang. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara elektronik yang mengakhiri pertempuran selama hampir empat bulan terakhir. Kesepakatan ini langsung berlaku dan disambut sebagai terobosan diplomatik yang mengejutkan banyak pihak.
Berdasarkan pernyataan resmi dari pejabat Pakistan yang menjadi mediator, serta konfirmasi dari kedua negara, isi perjanjian ini mencakup tiga poin utama: penghentian total operasi militer di semua lini, komitmen Iran untuk tidak mengembangkan atau memperoleh senjata nuklir, serta pembukaan penuh Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut bahwa hasil negosiasi ini jauh lebih menguntungkan daripada perang. Namun, di balik optimisme itu, sejumlah analis menyoroti celah implementasi di lapangan. Pertanyaan terbesar adalah mekanisme verifikasi penghentian program nuklir Iran dan pengawasan gencatan senjata di wilayah yang dikuasai proksi Iran seperti Yaman dan Suriah.
Dari sisi dampak ekonomi, pembukaan kembali Selat Hormuz diprediksi akan menstabilkan harga minyak global yang sempat melonjak drastis. Namun, para pengamat menilai bahwa tanpa pengawasan internasional yang ketat, kesepakatan ini bisa menjadi gencatan senjata sementara yang rapuh.