Tahun 2020, jutaan orang di seluruh dunia turun ke jalan, menuntut keadilan setelah pembunuhan George Floyd oleh polisi Minneapolis. Gerakan ini, yang dipelopori kaum muda kulit hitam, berhasil membawa satu kata kunci ke tengah diskusi publik: “abolisi”. Bukan sekadar protes biasa, gerakan ini memicu pertanyaan besar: mungkinkah kita hidup tanpa polisi, penjara, dan kekerasan negara?
Pertanyaan fundamental inilah yang menjadi inti pemikiran Ruth Wilson Gilmore, seorang geografer abolisionis terkemuka, yang karyanya sudah puluhan tahun menyoroti isu ini. Gilmore adalah salah satu tokoh kunci dalam studi tentang kepolisian dan penghapusan sistem penjara. Buku klasiknya, Golden Gulag, pernah memaparkan bagaimana jumlah orang yang dipenjara di Amerika Serikat melonjak lebih dari 450% antara tahun 1980 dan 2007. Lonjakan ini menunjukkan adanya masalah sistemik, bukan sekadar kriminalitas.
Kini, antologi terbarunya, Abolition Geography: Essays Towards Liberation, kembali relevan dua tahun setelah mobilisasi massa terbesar dalam beberapa dekade tersebut. Buku ini merangkum esai-esai Gilmore dari tahun 1991 hingga 2018, membahas kepolisian, kapitalisme, dan strategi pengorganisasian gerakan.
Dalam bukunya, Gilmore mengajak para intelektual dan akademisi untuk tidak hanya bicara, tetapi juga bertindak. Mengingat pertanyaan Audre Lorde yang terkenal, “Jika alat majikan tidak akan pernah membongkar rumah majikan,” maka siapa yang akan melakukannya? Gilmore mendorong para pekerja pengetahuan untuk terlibat aktif dalam gerakan abolisionis.
Lebih lanjut, Gilmore menelusuri bagaimana praktik rasisme—baik dari AS maupun negara lain—bisa menyebar secara global melalui “ekspor” sistem penjara Amerika. Ia menunjukkan bagaimana munculnya lembaga non-pemerintah (NGO) dan perjanjian internasional justru memperkuat perluasan penahanan massal, menyebarkan gaya kepolisian dan penjara ala AS ke berbagai belahan dunia. Dengan demikian, praktik rasisme bahkan bisa mengakar di tempat-tempat yang secara nominal “bebas” dari supremasi kulit putih.
Gilmore juga memperkenalkan konsep “negara anti-negara” (anti-state state). Istilah ini menggambarkan fenomena di mana fungsi-fungsi negara tradisional seperti layanan kesehatan dan perumahan dialihkan ke pihak swasta. Para pemimpin seperti Reagan dan Thatcher, serta politikus liberal dan konservatif, mempromosikan gagasan ini dengan dalih “pemerintahan kecil”. Namun, Gilmore mengungkap, tujuan sebenarnya adalah untuk meningkatkan kapasitas kekerasan negara, baik melalui perang di luar negeri maupun penahanan massal di dalam negeri.
Di sinilah ia memetakan lanskap penjara dan menjelaskan bagaimana rasisme, kolonialisme, dan kapitalisme neoliberal bekerja sama untuk menjebloskan jutaan orang ke balik jeruji. Entah demi keuntungan swasta, disiplin kapitalis yang berbasis ras, atau sebagai “solusi penjara” untuk masalah lahan atau tenaga kerja. Intinya, Gilmore secara konsisten menantang kita untuk melihat lebih dalam akar masalah sosial, bukan sekadar gejala di permukaan.