Ketegangan di Hebron, Tepi Barat Selatan, memuncak pada Jumat (25/10) setelah pasukan Israel meledakkan rumah dua bersaudara palestina, Ahmad dan Hammouda al-Jaabeh. Aksi ini merupakan balasan atas serangan mereka di pos pemeriksaan Farsh al-Hawa pekan lalu yang menewaskan dua tentara Israel. Insiden ini terjadi di hari kedelapan operasi militer besar-besaran yang kini melumpuhkan kota tersebut.
Menurut laporan jurnalis Al Jazeera di lapangan, tim ahli bahan peledak militer Israel butuh waktu lebih dari sembilan jam untuk memasang bom sebelum akhirnya menghancurkan bangunan tersebut. Situasi semakin panas ketika warga setempat mencoba mendekati lokasi kejadian. Pasukan Israel yang didukung drone langsung bergerak cepat dan menahan sedikitnya 12 warga Palestina. Beberapa dari mereka dilaporkan mengalami tindak kekerasan saat penangkapan.
Dampak kemanusiaan di Hebron sangat masif. Otoritas setempat mencatat sebanyak 4.969 warga dari 780 keluarga kini hidup sebagai pengungsi akibat operasi ini. Kawasan Ein Deir Bahha telah dikosongkan sepenuhnya; sebagian rumah warga bahkan diubah fungsi menjadi barak militer dan pusat komando. Ratusan keluarga lain di area al-Jalda masih terjebak di dalam rumah mereka, sementara puluhan lainnya menggelar aksi protes menuntut hak untuk kembali ke rumah masing-masing.
Pengamat menilai operasi ini bukan sekadar upaya keamanan, melainkan bentuk hukuman kolektif. Akademisi Raed Nairat menilai tujuan utamanya adalah mematahkan keinginan warga Palestina dengan membuat mereka menanggung akibat dari tindakan yang mungkin tidak mereka setujui. Sejak operasi dimulai, sedikitnya 120 warga Palestina telah ditahan, dan belasan unit usaha di sekitar pos pemeriksaan ikut dibuldoser.