Gerbang Rafah, jalur vital menuju Gaza, dijadwalkan dibuka kembali Minggu ini oleh Israel. Keputusan ini datang setelah hampir dua tahun penutupan, namun sayangnya, langkah ini tidak serta-merta membawa kelegaan bagi krisis kemanusiaan di sana. Pasalnya, pembukaan ini hanya berlaku untuk pergerakan orang dengan pengawasan ketat, sementara bantuan kemanusiaan tetap dilarang masuk.
Situasi ini tentu saja memicu kekhawatiran baru di tengah krisis kemanusiaan yang akut di wilayah tersebut. Reporter Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan langsung dari Rafah bahwa Israel masih menegaskan tetap memegang kendali penuh atas keamanan di area tersebut. Hal ini berarti, meskipun pintu dibuka, otoritas Israel tetap memiliki wewenang penuh atas siapa dan apa yang boleh melintas, memastikan kontrol keamanan tetap terjaga.
Para pengamat menilai, pembukaan parsial ini belum cukup menjawab kebutuhan mendesak warga Gaza yang sangat bergantung pada pasokan bantuan dari luar. Tanpa masuknya logistik penting seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, penderitaan masyarakat Gaza dikhawatirkan akan semakin parah, meskipun ada sedikit kelonggaran bagi pergerakan individu. Ini menjadi dilema besar: jalur dibuka, tapi jantung masalahnya – krisis bantuan – masih belum terpecahkan, meninggalkan banyak pertanyaan soal efektivitas langkah ini dalam meringankan beban kemanusiaan di Gaza.