BEIRUT – Di tengah kabar gembira soal potensi damai, dentuman keras kembali mengguncang Lebanon selatan. Militer Israel melancarkan serangan baru pada Sabtu (22/2), hanya sehari sebelum Amerika Serikat dan Iran dikabarkan akan menandatangani kesepakatan bersejarah.
Ledakan bertubi-tubi terdengar di berbagai titik di Lebanon selatan. Serangan ini menjadi ironi di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa kesepakatan AS-Iran akan diteken pada Minggu (23/2). Media Iran memberitakan bahwa draf awal perjanjian itu menyepakati penghentian perang 'di semua lini, termasuk Lebanon'.
Analisis: Aksi militer Israel di saat-saat terakhir sebelum potensi gencatan senjata seringkali dimaknai sebagai upaya untuk memperkuat posisi tawar atau mengamankan target-target strategis sebelum moratorium berlaku. Bagi warga Lebanon, ini adalah mimpi buruk yang tak kunjung usai. Jika kesepakatan AS-Iran benar-benar terealisasi, ini bisa menjadi titik balik paling signifikan di Timur Tengah dalam satu dekade terakhir, mengingat Iran adalah pendukung utama kelompok Hizbullah di Lebanon.