DOKTER BERSIAP PERANG LAWAN KEBIJAKAN ANTI-SAINS - Berita Dunia
← Kembali

DOKTER BERSIAP PERANG LAWAN KEBIJAKAN ANTI-SAINS

Foto Berita

Gelombang baru profesional kesehatan di Amerika Serikat mulai terjun ke dunia politik praktis. Mereka mencalonkan diri dalam pemilihan kongres untuk melawan kebijakan yang dianggap anti-sains di era pemerintahan Donald Trump.

Fenomena ini menarik perhatian karena jumlah dokter yang berpotensi menduduki kursi kongres mencapai rekor tertinggi, yaitu sekitar 25 orang menurut American College of Gastroenterology. Meski banyak petahana berasal dari Partai Republik, para ahli mencatat lonjakan signifikan kandidat dokter dan tenaga kesehatan dari kubu Demokrat.

Beberapa nama besar ikut bertarung di kursi panas. Ada Abdul El-Sayed, mantan pejabat kesehatan publik yang bertarung ketat di Senat Michigan. Lalu ada Annie Andrews, dokter anak yang berhasil mengubah wilayah aman Republik di South Carolina menjadi medan pertempuran sengit.

Para pengamat menilai gelombang ini muncul akibat frustrasi publik terhadap kebijakan pemerintahan Trump yang dinilai mengabaikan fakta ilmiah. Selain itu, isu mahalnya biaya kesehatan juga menjadi pemicu utama kemarahan masyarakat.

Eric Feigl-Ding, pendiri kelompok advokasi Vax PAC, menegaskan bahwa ilmuwan tidak bisa lagi diam melihat masifnya misinformasi. Menurutnya, masuk ke politik bukan sekadar aksi partisan, melainkan upaya "imunisasi" kebijakan publik dari kepentingan politik yang merugikan kesehatan.

Survei Pew Research Center menempatkan isu kesehatan sebagai prioritas ketiga bagi pemilih Amerika, setelah ekonomi dan masa depan demokrasi. Namun, terjadi polarisasi tajam: 82 persen pemilih Demokrat menganggap kesehatan sangat penting, sementara hanya 53 persen pemilih Republik yang sepakat.

Analisis Dampak: Masuknya para dokter ke ranah legislatif berpotensi mengubah arah kebijakan kesehatan publik AS ke depan. Jika terpilih, mereka diprediksi akan memperjuangkan regulasi berbasis bukti ilmiah, akses vaksin yang merata, dan penurunan biaya pengobatan. Fenomena ini juga menjadi sinyal bahwa isu kesehatan telah bergeser dari sekadar masalah medis menjadi identitas politik yang memecah belah masyarakat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook