Setelah berbulan-bulan terjebak tanpa listrik, air, dan makanan, ratusan warga Oleshky akhirnya berhasil dievakuasi dari kota yang dikuasai Rusia tersebut. Proses evakuasi ini menjadi momen langka di tengah perang yang berkepanjangan, dimungkinkan berkat gencatan senjata kemanusiaan yang dimediasi oleh Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump.
Evakuasi berlangsung dramatis. Warga yang selama ini bertahan hidup dengan memakan gulma dari kebun akhirnya bisa keluar dari kota pada Jumat (31/10) lalu. Mereka harus melewati rute berliku: dari Oleshky menuju wilayah Krimea yang dikuasai Rusia, lalu terbang ke kota Anapa di Rusia selatan, sebelum akhirnya tiba di Gomel, Belarusia, pada Sabtu pagi. Menurut pejabat senior Ukraina, David Arakhamia, pesawat terakhir yang membawa warga telah mendarat di Gomel dan mereka segera kembali ke wilayah Ukraina.
Kondisi di Oleshky sebelum evakuasi sangat memprihatinkan. Kota yang sebelum perang berpenduduk 24.000 jiwa ini telah tiga tahun tanpa pasokan gas, listrik, dan air bersih. Jalan keluar kota dipenuhi ranjau dan rawan serangan drone, membuat warga yang mencoba kabur harus mempertaruhkan nyawa. Seorang warga bahkan harus berjalan kaki sejauh 24 kilometer melewati ladang ranjau untuk mencapai tempat aman. Gencatan senjata yang berlaku hingga Minggu (1/11) ini memungkinkan tim penyapu ranjau membersihkan jalur evakuasi, sehingga konvoi 25 bus yang mampu menampung 750 orang bisa bergerak pada Jumat sore.
Meski demikian, ratusan warga lainnya memilih bertahan di kota yang hancur tersebut. Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, memastikan bahwa mereka yang memilih tinggal akan tetap menerima bantuan kemanusiaan. Evakuasi ini menjadi operasi kemanusiaan pertama yang melibatkan pejabat Ukraina dan Rusia secara langsung sejak invasi dimulai, dengan Lubinets dan mitranya dari Rusia, Yana Lantratova, bersama-sama menuju Oleshky dari Armiansk di Krimea. Bagi masyarakat luas, keberhasilan evakuasi ini menunjukkan bahwa dialog kemanusiaan masih mungkin terjadi di tengah konflik, meskipun situasi di lapangan tetap sangat rapuh dan berbahaya.