GAZA — Kehancuran massif akibat agresi Israel memaksa para profesional di Gaza beradaptasi dengan cara yang tak biasa. Dokter, pengacara, hingga guru terpaksa mengubah tenda-tenda pengungsian menjadi ruang kerja darurat untuk tetap bisa melayani masyarakat di tengah keterbatasan yang ekstrem.
Salah satu kisah datang dari Dr Mohammed al-Khalidi, spesialis prostetik dan ortik. Kliniknya di Rafah dan Khan Younis hancur dalam gelombang serangan udara Israel pada 2024 hingga 2025. Kini, ia menerima pasien dari sebuah tenda sederhana di al-Mawasi. Meski tanpa listrik yang stabil dan kepanasan, ia menegaskan bahwa berhenti melayani bukanlah pilihan.
Kondisi ini diperparah dengan data yang mengejutkan: lebih dari 5.000 hingga 6.000 orang di Gaza mengalami amputasi antara Oktober 2023 dan Oktober 2025. Sementara itu, Badan Pusat Statistik Palestina mencatat lebih dari 80 persen bangunan di Gaza rusak atau hancur, memicu krisis properti yang membuat harga sewa melonjak tak terjangkau.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada tenaga medis. Pengacara kini bertemu klien di tenda, begitu pula para pedagang yang menjajakan barang dagangan. Seorang insinyur sipil, Omar al-Tawashi, bahkan harus memindahkan operasionalnya ke rumah setelah kantornya dibom, sebelum akhirnya rumahnya pun terkena dampak serangan.
Analisis Dampak: Fenomena 'kantor tenda' ini menunjukkan runtuhnya infrastruktur sipil Gaza secara total. Namun, di balik kehancuran itu, muncul resiliensi luar biasa dari masyarakat yang menolak menyerah pada keadaan. Bagi masyarakat internasional, ini adalah alarm keras bahwa layanan dasar kemanusiaan kini bergantung pada selembar kanvas dan tekad individu, bukan lagi pada sistem negara yang telah lumpuh.