Organisasi fraternity atau 'frat' di kampus-kampus Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan tajam. Selama ini, organisasi yang identik dengan kehidupan sosial 'Greek life' ini dianggap sebagai kunci sukses karier, bahkan lebih dari 40 persen Presiden AS dulunya adalah anggota fraternity. Namun, di balik janji persaudaraan dan jaringan elite yang menjanjikan masa depan cerah, tersimpan sisi gelap berupa budaya kekerasan dan pemaksaan.
Kritik mencuat setelah kasus dugaan pemerkosaan berkelompok yang menimpa seorang mahasiswi Cornell University, Jane Doe, oleh anggota fraternity Chi Phi pada Oktober 2024. Kasus ini membuka borok sistem 'hazing' (perpeloncoan) dan taktik koersif yang digunakan untuk membangun loyalitas buta. Para ahli menyebut, eksklusivitas organisasi ini seringkali dijadikan tameng untuk menormalisasi perilaku buruk dan kekerasan seksual, dengan iming-iming penerimaan sosial sebagai imbalannya.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat luas, fenomena ini menyoroti pentingnya pengawasan terhadap organisasi mahasiswa yang memiliki kekuatan finansial besar (industri bernilai miliaran dolar). Jika dibiarkan, budaya ini tidak hanya merusak moral kampus tetapi juga melanggengkan budaya pemerkosaan dan ketidakadilan gender di institusi pendidikan tinggi. Pihak universitas dituntut untuk tidak lagi mempromosikan 'Greek life' sebagai jalur prestise tanpa menjamin keamanan mahasiswanya.