Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara yang menghantam infrastruktur penting Iran. Serangan ini dilaporkan telah merusak atau menghancurkan jembatan tertinggi Iran dan sebuah pusat penelitian medis bersejarah yang selama ini berjuang melawan penyakit mematikan seperti kolera.
Presiden AS Donald Trump tak hanya mengakui serangan tersebut, tetapi juga secara terbuka mengancam akan memperluas target serangan ke jembatan-jembatan lain dan pembangkit listrik Iran. Ancamannya ini, yang menurut banyak pihak berisiko melanggar hukum internasional, muncul setelah ia membagikan rekaman serangan AS terhadap jembatan B1 yang baru dibangun, yang menghubungkan Teheran dengan Karaj. Iran mengklaim serangan jembatan tersebut telah menewaskan delapan orang dan melukai 95 lainnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam keras tindakan penargetan infrastruktur sipil ini. Menurutnya, serangan semacam itu tidak akan membuat rakyat Iran menyerah, melainkan hanya menunjukkan kekalahan moral dan kekacauan di pihak musuh.
Hampir lima minggu sejak perang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel, konflik ini telah memicu ketidakstabilan di seluruh kawasan dan mengguncang pasar energi global. Kekhawatiran meningkat terhadap Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia, yang kini terancam. Citra satelit terbaru bahkan menunjukkan kepulan asap dari Pulau Qeshm milik Iran, yang letaknya dekat dengan jalur strategis tersebut, menggarisbawahi risiko infrastruktur regional yang terus meningkat.
Di sisi lain, media Iran telah mengisyaratkan potensi pembalasan, bahkan merilis daftar jembatan utama di Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania yang bisa menjadi target balasan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengklaim telah menyerang situs-situs industri yang terkait dengan AS di Teluk, termasuk fasilitas baja di Abu Dhabi dan instalasi aluminium di Bahrain, sebagai peringatan awal. Eskalasi ini memperparah risiko krisis kemanusiaan akibat kerusakan infrastruktur sipil dan berpotensi melumpuhkan mobilitas serta akses layanan dasar bagi masyarakat. Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz mengancam stabilitas pasokan energi dunia, yang pada akhirnya akan memengaruhi harga energi dan ekonomi global secara luas.