Jakarta - Kisah inspiratif datang dari ilmuwan antariksa India, Nandini Harinath. Sari merah dan biru sutra yang ia kenakan pada momen krusial misi Mars India, Mangalyaan, kini menjadi koleksi prestisius Museum Nasional Udara dan Antariksa Smithsonian di Washington, AS.
Nandini, yang menjabat sebagai deputi direktur operasi misi, mengenakan sari pemberian ayahnya itu pada 1 Desember 2013. Hari itu menjadi titik penentu saat tim ilmuwan India (ISRO) harus mendorong wahana Mangalyaan keluar dari orbit Bumi menuju Mars. "Ini adalah momen do-or-die, operasi paling kritis dalam misi," ujar Nandini dalam wawancara 2016. Keberhasilan hari itu menentukan apakah India berhasil menjadi negara keempat di dunia yang mencapai orbit Mars.
Mangalyaan sukses memasuki orbit Mars pada 24 September 2014. Foto para ilmuwan perempuan India bersari yang berhamburan merayakan keberhasilan itu sempat viral, mematahkan stereotip bahwa ilmu roket adalah dominasi pria. Kurator Smithsonian, Matt Shindell, mengaku tertarik dengan gambar ikonik tersebut. Ia lalu menghubungi Nandini pada 2020 dan sepakat menjadikan sari bersejarah itu sebagai artefak representatif.
"Saya bertanya benda apa yang bisa ia lepaskan. Kami sepakat dengan sari yang ia kenakan saat Mangalyaan meninggalkan Bumi," kata Shindell. Koleksi ini menempati tempat istimewa, setara dengan rompi ikonik Gene Kranz, direktur penerbangan NASA yang memandu misi penyelamatan Apollo 13 pada 1970.
Analisis Dampak: Koleksi ini bukan sekadar pameran kain. Ini simbol kebangkitan peran perempuan di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, matematika). Di Indonesia, kisah ini bisa menjadi momentum untuk mendorong lebih banyak perempuan terjun ke industri teknologi dan kedirgantaraan. Museum Smithsonian yang dikunjungi puluhan ribu orang setiap pekannya juga menjadi panggung diplomasi budaya yang kuat, menunjukkan bahwa kontribusi negara berkembang di sains kelas dunia layak diakui secara global.