Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat gebrakan kontroversial. Ia membela keputusannya memblokir sejumlah sanksi terhadap Rusia yang seharusnya segera berlaku. Alasannya? Agar Moskow tetap duduk di meja perundingan damai dengan Ukraina.
Lewat unggahan di Truth Social, Trump menegaskan bahwa keputusan ini murni untuk menjaga jalur diplomasi. Ia bahkan menuduh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tidak memiliki keinginan tulus untuk mengakhiri perang. Menurut Trump, serangan Kyiv terhadap kilang diesel di Rusia justru mengganggu stabilitas pasar energi global.
Pernyataan Trump ini memicu reaksi keras dari Zelenskyy. Dalam wawancara dengan NBC, Zelenskyy menilai pelonggaran sanksi hanya akan memperkuat agresi Vladimir Putin. Ia menegaskan bahwa Rusia adalah teroris dan berharap Trump bersikap tegas terhadap Moskow.
Di tengah ketegangan ini, Zelenskyy mengaku masih menjalin komunikasi intens dengan utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, untuk membahas langkah diplomasi selanjutnya. Namun, pertempuran di lapangan belum mereda. Rusia dan Ukraina masih saling serang infrastruktur energi, membuat situasi semakin panas.
Analisis Dampak: Keputusan Trump ini berisiko melemahkan posisi Ukraina di mata sekutu Eropa. Di sisi lain, upaya Trump melobi Rusia demi menstabilkan harga minyak global menunjukkan prioritas ekonomi AS yang bergeser. Masyarakat internasional perlu mencermati apakah langkah ini benar-benar membawa perdamaian atau justru memperpanjang konflik.