Sebuah permata langka berwarna pink, yang dikenal sebagai 'Grand Condé', kembali dipamerkan di Prancis untuk pertama kalinya setelah hampir 100 tahun hilang. Permata berbentuk buah pir seberat sembilan karat ini terakhir terlihat publik pada tahun 1926, sebelum akhirnya dicuri dalam sebuah perampokan malam di Château de Chantilly.
Yang membuat kisah pencurian ini unik adalah bagaimana permata itu ditemukan kembali. Para pencuri ternyata menyembunyikannya di dalam sebuah apel yang sudah dilubangi. Beruntung, beberapa minggu kemudian, seorang pelayan hotel yang sedang kelaparan mengambil apel tersebut dan menggigitnya, hingga akhirnya menemukan permata itu di dalamnya.
Grand Condé sendiri merupakan salah satu dari sedikit permata kerajaan yang selamat dari Revolusi Prancis. Kini, permata tersebut dipamerkan di Musée Condé hingga 3 Januari mendatang. Direktur museum, Mathieu Deldicque, mengakui bahwa kisah apel ini terdengar seperti cerita fiksi, namun hal itu memang diliput secara luas oleh surat kabar pada masa itu.
Pameran ini juga menjadi momen refleksi di tengah maraknya aksi pencurian di institusi budaya Eropa dalam setahun terakhir, termasuk insiden pencurian perhiasan di Museum Louvre. Meski menolak menyebutkan nilai asuransi permata tersebut, pihak museum memastikan bahwa Grand Condé telah melalui studi akademis mendalam sehingga keasliannya sangat mudah diidentifikasi. Analisis ini, bersama dengan arsip sejarah yang belum pernah terlihat sebelumnya, turut dipamerkan.
Diketahui, berlian pink alami sangatlah langka dan sering terjual dengan harga puluhan juta dolar. Harga tertinggi yang pernah tercatat dalam lelang adalah $71,2 juta pada tahun 2017. Asal-usul pasti Grand Condé masih menjadi misteri, namun pertama kali disebut pada tahun 1740 dalam inventaris Louis Henri de Bourbon, Pangeran Condé.