Jakarta - Beban biaya hidup yang terus melonjak memaksa banyak pekerja di Amerika Serikat (AS) untuk mencari penghasilan tambahan. Fenomena ini menunjukkan bahwa memiliki pekerjaan tetap saja tidak lagi cukup untuk menjamin stabilitas finansial di sana.
Kisah Stacy Eichel, warga Florida, menjadi salah satu contoh nyata getirnya kondisi ini. Setelah kehilangan pekerjaan tetapnya di bidang pemasaran pada September 2025 akibat merger perusahaan, ia harus mengandalkan bisnis sampingannya yang memproduksi merchandise kustom. Namun, harapan tersebut pupus karena permintaan pasar justru menurun drastis. Perusahaan-perusahaan kini ketat mengatur pengeluaran akibat ketidakpastian kebijakan tarif dan maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang menggantikan peran manusia. Barang-barang sekunder seperti suvenir konferensi pun jadi pos anggaran pertama yang dipangkas.
Data terbaru mengonfirmasi tren yang mengkhawatirkan ini. Angka pengangguran luas (U-6) yang mencakup pekerja paruh waktu dan mereka yang putus asa mencari kerja masih bertengger di level tinggi, yakni 7,6 persen. Lebih mencengangkan lagi, sekitar 4,5 juta warga AS terpaksa bekerja paruh waktu karena gagal mendapatkan posisi full-time. Sementara itu, ada 9 juta orang atau 5,5 persen dari total pekerja yang harus 'menggandakan' profesi alias mengambil lebih dari satu pekerjaan sekaligus untuk menutupi kebutuhan.
Analisis singkat: Kondisi ini menandakan adanya krisis kualitas lapangan kerja (underemployment). Bagi masyarakat umum, ini adalah peringatan bahwa indikator ekonomi makro seringkali tidak mencerminkan realita di lapangan. Bagi pemerintah, tingginya angka pekerja dengan multi-job mencerminkan kegagalan upah layak dalam memenuhi standar hidup, sehingga mendorong beban kerja berlebih (overwork) yang berisiko pada kesehatan mental dan stabilitas sosial.