Jalur Gaza kini tercekik krisis energi yang mencekam. Setelah perang menghancurkan jaringan listrik publik, warga terpaksa sangat bergantung pada generator pribadi. Namun, pasokan bahan bakar yang seret dan pembatasan impor dari Israel membuat harga listrik melonjak gila-gilaan, bahkan hingga sepuluh kali lipat dari sebelum konflik. Ini menjerat lebih dari dua juta penduduk dalam lingkaran kesulitan ekonomi yang makin parah.
Ketergantungan pada generator pribadi kini menjadi satu-satunya pilihan bagi masyarakat Gaza. Tetapi, di tengah kelangkaan bahan bakar, harga listrik per kilowatt-hour meroket tajam. Jika sebelumnya hanya sekitar 2,5 shekel ($0.80), kini harganya bisa mencapai 20 hingga 30 shekel ($7-$10). Kenaikan hampir sepuluh kali lipat ini praktis membuat biaya listrik nyaris tak terjangkau banyak keluarga yang sudah dihantam krisis ekonomi akut pascaperang.
Krisis gas juga tak kalah parah, sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Meskipun ada sedikit kiriman pasca-kesepakatan 'gencatan senjata' Oktober lalu, jumlahnya jauh dari cukup. Sumber-sumber Palestina melaporkan, hanya 14,7 persen dari volume bahan bakar yang dijanjikan dalam protokol kemanusiaan yang benar-benar masuk. Kondisi ini membuat setiap keluarga hanya bisa menerima sekitar 8 kilogram gas, itu pun setiap dua hingga tiga bulan sekali. Tak heran jika banyak warga terpaksa mencari cara lain, seperti membakar kayu untuk memasak dan membuat roti, persis seperti yang dilakukan Abdullah Jamal, seorang pembuat roti di Gaza.
Lonjakan harga tidak berhenti di situ. Bahan bakar untuk transportasi, seperti solar, juga melambung. Harganya kini kira-kira tiga kali lipat dari harga sebelum perang, menambah beban hidup warga. Sebelumnya, pada puncak konflik, harga solar bahkan sempat mencapai 90 shekel ($29) per liter akibat pembatasan impor Israel yang sangat ketat.
Situasi ini diperparah oleh rendahnya kepatuhan terhadap kesepakatan pasokan. Data pemerintah Gaza bulan ini menunjukkan, dari target 8.050 truk bahan bakar yang seharusnya masuk sejak gencatan senjata dimulai (50 truk per hari), otoritas Israel baru mengizinkan 1.190 truk. Artinya, tingkat kepatuhan hanya sekitar 14,7 persen. Kelangkaan parah ini menjelaskan mengapa sebagian besar rumah tangga di Gaza kesulitan mendapatkan listrik dan gas yang stabil, apalagi membeli sumber energi alternatif. Krisis berlapis ini jelas memperparah kondisi kemanusiaan dan ekonomi bagi lebih dari 2 juta warga Palestina di Jalur Gaza.