Kherson, Ukraina — Sopir bus di Kherson, Ukraina selatan, hidup dalam teror setiap hari. Anatoly Dmytrov, sopir bus rute 14, menceritakan bagaimana kendaraannya dihantam drone Rusia saat penuh penumpang. "Semua kaca pecah. Saya lihat darah di kaca spion. Saya langsung teringat, mereka sering kirim drone kedua," katanya. Akibat serangan itu, setidaknya delapan penumpangnya terluka.
Perusahaan transportasi umum Kherson mengonfirmasi, serangan terhadap bus sudah dimulai tahun lalu dan semakin parah. Tahun ini saja, tiga pekerja tewas, delapan terluka, dan 21 bus listrik serta delapan bus reguler rusak. Enam bus swasta juga ikut jadi sasaran pada 2026. Sekitar 65.000 warga masih bertahan di kota yang dulu dihuni 300.000 jiwa ini.
Manajer perusahaan, Rita Dobrinova, mengungkapkan ancaman makin ganas sejak Rusia menggunakan kabel serat optik pada drone yang kebal terhadap alat pengacak sinyal. "Ada drone yang hanya melayang menunggu. Ada yang jadi mata-mata. Mereka menatap langsung mata sopir melalui kaca depan," ujarnya. Ia juga menceritakan insiden fatal 11 April lalu, di mana sebuah bom dijatuhkan tepat di kepala sopir hingga menembus atap kabin.
Pemerintah setempat sudah memasang jaring anti-drone di jalan-jalan sibuk, membagikan helm dan rompi antipeluru, serta memberikan detektor drone bernama 'chuyka'. Namun alat itu hanya bisa mendeteksi drone dengan frekuensi lama, bukan yang menggunakan serat optik atau frekuensi baru.
Analisis: Situasi ini menunjukkan perubahan taktik perang Rusia yang semakin brutal dengan menargetkan infrastruktur sipil. Serangan sistematis terhadap transportasi umum tidak hanya melumpuhkan mobilitas warga, tetapi juga menciptakan teror psikologis massal. Jika dibiarkan, Kherson bisa menjadi kota mati karena warga takut keluar rumah. Dunia internasional perlu menekan Rusia agar menghentikan kejahatan perang ini, karena menyerang transportasi sipil jelas melanggar hukum perang internasional.