Upaya penyelamatan warga di Kota Oleshky, wilayah Kherson, Ukraina selatan, akhirnya membuahkan hasil. Setelah berpekan-pekan mencoba menggelar operasi bantuan, konvoi bantuan kemanusiaan kini berhasil masuk ke kota yang dikuasai pasukan Rusia tersebut. Informasi ini dikonfirmasi oleh surat kabar Rusia, Izvestia, pada Jumat lalu.
Konvoi tersebut membawa pasokan makanan dan obat-obatan. Kedatangan bantuan ini berbarengan dengan berlangsungnya gencatan senjata lokal yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS). Kesepakatan gencatan senjata selama enam hari ini telah memasuki hari ketiga dan sejauh ini dipatuhi oleh Moskow dan Kyiv.
Dalam perkembangan terbaru, Komisioner Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, dan mitranya dari Rusia, Yana Lantratova, bertemu di Oleshky pada malam hari. Menurut laporan saluran TV negara Rusia, Vesti, Lantratova menyatakan bahwa 25 bus dengan kapasitas total minimal 750 kursi telah disiagakan untuk mengevakuasi warga yang ingin pergi. Proses evakuasi dijadwalkan berlangsung hingga pukul 14.00 waktu setempat.
Lubinets memastikan bahwa warga yang tersisa akan dapat meninggalkan kota dengan aman. Ia juga menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata enam hari yang dimediasi AS tersebut. Sebelumnya, pada Kamis, kedua negara mengumumkan bahwa operasi pembersihan ranjau (demining) di sekitar Oleshky telah selesai. Namun, Lantratova mengungkapkan bahwa dua orang tewas dalam upaya pembersihan ranjau tersebut.
Gedung Putih bersikeras bahwa Ibu Negara AS, Melania Trump, adalah pihak yang memediasi gencatan senjata di Oleshky. Ia menyebut kota itu 'di ambang bencana' karena pasokan makanan dan obat-obatan sangat menipis bagi sekitar 2.000 warga yang masih bertahan. Sementara itu, Vatikan menawarkan narasi berbeda, dengan menyebut bahwa Paus turut berperan dalam jeda pertempuran melalui panggilan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Meski gencatan senjata lokal berjalan, pertempuran di wilayah lain Ukraina masih berlangsung sengit. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa situasi di Oleshky adalah kasus terisolasi dan tidak boleh dikaitkan dengan proses perdamaian yang lebih luas. Di sisi lain, Rusia dilaporkan menyerang fasilitas industri di dekat Kremenchuk, serta menargetkan Kyiv dan Kharkiv. Moskow mengklaim serangan itu menyasar infrastruktur energi dan fasilitas pelabuhan.
Analisis Dampak: Keberhasilan evakuasi dan masuknya bantuan di Oleshky menjadi oase di tengah konflik berkepanjangan. Bagi masyarakat sipil, ini adalah kesempatan hidup yang krusial, terutama menjelang musim dingin yang keras tanpa listrik dan air. Namun, pernyataan Kremlin yang menyebut ini 'kasus terisolasi' menjadi sinyal bahwa perdamaian menyeluruh masih jauh dari harapan. Masyarakat internasional perlu mencermati apakah gencatan senjata lokal ini akan menjadi preseden buruk (hanya berhenti sebentar untuk evakuasi lalu perang lagi) atau justru menjadi pintu masuk menuju negosiasi damai yang sesungguhnya.