Kisah pilu Sara, seorang perempuan dari Lebanon Selatan, kembali menyoroti realitas pahit para pengungsi yang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka. Selama dua tahun terakhir, Sara telah menjalani perjalanan berliku; ia melarikan diri dari wilayah Lebanon Selatan yang kerap bergejolak, mencari perlindungan di ibu kota, Beirut.
Namun, harapan untuk kembali ke tanah kelahirannya ternyata tak semudah yang dibayangkan. Sara kini menghadapi berbagai tantangan berat dalam upayanya kembali ke rumahnya di Lebanon Selatan. Perjalanan penuh perjuangan ini terekam apik dalam sebuah video diary yang diproduksi bekerja sama dengan Global Reporting Centre.
Kisah Sara ini bukan sekadar cerita pribadi, melainkan cerminan dari jutaan jiwa yang terdampak konflik di berbagai belahan dunia, khususnya di Timur Tengah. Lebanon Selatan, misalnya, secara historis merupakan wilayah yang sering menjadi lokasi bentrokan dan ketegangan di perbatasan, terutama dengan Israel. Akibatnya, kondisi pasca-konflik—mulai dari kerusakan infrastruktur, masalah keamanan yang belum stabil, hingga hambatan birokrasi—seringkali menjadi tembok besar yang menghalangi para pengungsi untuk bisa menapakkan kaki kembali di tanah airnya.
Sulitnya jalan pulang bagi Sara menunjukkan bahwa 'kembali ke rumah' seringkali lebih dari sekadar perjalanan fisik, melainkan juga pertarungan emosional dan sosial untuk membangun kembali kehidupan yang hancur. Kisah ini menjadi pengingat pahit tentang dampak jangka panjang konflik terhadap masyarakat sipil, di mana kepulangan yang damai pun bisa menjadi sebuah kemewahan yang sulit diraih.