Jakarta - Badan sepak bola dunia, FIFA, resmi membuka penyelidikan terhadap dua pemain Timnas Argentina, Lisandro Martinez dan Giovani Lo Celso. Mereka kedapatan membawa spanduk bertuliskan 'Las Malvinas son Argentinas' atau 'Kepulauan Falkland Milik Argentina' usai membungkam Inggris di semifinal Piala Dunia Wanita.
Insiden ini langsung memicu reaksi keras dari pemerintah Inggris. Menteri Bisnis Peter Kyle mengecam aksi tersebut sebagai 'pelanggaran berat' terhadap aturan FIFA. Pihaknya mendesak FIFA untuk menyelidiki tuntas kejadian di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, itu.
Juru bicara FIFA mengonfirmasi bahwa komite disiplin independen sedang meninjau laporan pertandingan. 'Kami sedang mempertimbangkan situasi terkait sebelum memutuskan langkah lebih lanjut berdasarkan kode disiplin FIFA,' ujarnya, Kamis (20/6).
Aturan FIFA melarang keras pesan politik, ideologis, atau ofensif di dalam stadion. Pelanggaran bisa berujung denda mulai dari 5.000 hingga 20.000 dolar AS. Apalagi, spanduk ini mengangkat isu sensitif soal kedaulatan Kepulauan Falkland yang sempat memicu perang antara Argentina dan Inggris pada 1982.
Menariknya, Martinez yang membela Manchester United di Inggris justru berdalih, 'Kami tidak boleh mengecewakan rakyat Argentina.' Sementara juru bicara Perdana Menteri Inggris menegaskan, 'Hak menentukan nasib sendiri ada di tangan penduduk pulau. Komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah.'
Analisis: Isu ini bukan sekadar pelanggaran aturan stadion. Ini adalah bom politik yang bisa memperkeruh hubungan bilateral Inggris-Argentina. Di tengah euforia Argentina yang lolos ke final melawan Spanyol, tindakan para pemain ini justru membuka luka lama sejarah kolonialisme dan perebutan wilayah. FIFA kini berada di posisi sulit: antara menegakkan aturan atau terkesan berpihak secara politis.