Situasi di Teluk semakin memanas. Parlemen Iran melayangkan peringatan keras, mengancam akan menghantam infrastruktur vital negara regional yang berani membantu pendudukan pulau strategisnya. Ironisnya, ancaman ini muncul di tengah klaim damai dari AS yang justru terus mengerahkan ribuan pasukannya ke kawasan tersebut, membuat warga Iran semakin yakin perang besar tak terhindarkan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa laporan intelijen mengindikasikan āmusuh Iranā berencana menduduki sebuah pulau Iran, diduga dengan dukungan dari negara regional yang tidak disebutkan namanya. Ghalibaf menegaskan, segala upaya invasi itu akan dibalas dengan serangan terarah ke āinfrastruktur vitalā negara regional yang membantu operasi tersebut. āPasukan Iran terus memantau pergerakan musuh. Jika mereka mengambil langkah apa pun, kami akan menyerang infrastruktur vital di negara regional itu secara berkelanjutan dan tanpa henti,ā tegas Ghalibaf.
Peringatan ini datang bersamaan dengan situasi yang penuh kontradiksi dari Amerika Serikat. Di satu sisi, Presiden Donald Trump terus mengklaim bahwa AS sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik, klaim yang langsung dibantah Teheran. Di sisi lain, Gedung Putih justru melancarkan ancaman baru terhadap kepemimpinan Iran. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan Iran harus menerima kekalahan dan siap dihantam lebih keras jika menolak kenyataan. āPresiden Trump tidak menggertak dan siap melepaskan neraka,ā kata Leavitt, mengindikasikan potensi eskalasi militer.
Retorika damai sambil melontarkan ancaman perang ini diiringi oleh pergerakan pasukan besar-besaran dari Pentagon. Ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS telah diperintahkan untuk dikerahkan ke Teluk, menyusul dua kontingen Marinir AS yang sudah dalam perjalanan. Laporan media AS menyebutkan, unit Ekspedisi Marinir pertama, yang berada di kapal serbu amfibi raksasa, bisa tiba dalam beberapa hari ke depan. Sumber Al Jazeera di Teheran, Mohamed Vall, menyebutkan bahwa warga Iran sangat menyadari peningkatan kekuatan pasukan darat dan kapal perang AS di kawasan tersebut. Mereka yakin bahwa situasi ini akan mengarah pada kelanjutan perang, bukan perdamaian, dan kini sedang bersiap menghadapinya. Vall juga menginformasikan, āmata AS tertuju pada Pulau Kharg.ā Beberapa pihak meyakini bahwa ancaman Ghalibaf terhadap negara regional yang membantu invasi pulau itu merujuk pada Uni Emirat Arab (UEA), yang diduga mungkin bekerja sama dengan AS untuk merebut Pulau Kharg.
Eskalasi retorika dan pengerahan militer ini menunjukkan bahwa ketegangan di Teluk berada di titik puncak. Meskipun AS berbicara tentang perdamaian, tindakan di lapangan justru mengarah pada persiapan konflik berskala besar. Pulau Kharg, yang dikenal sebagai terminal ekspor minyak utama Iran, menjadi titik panas strategis. Jika diserang, dampaknya bisa sangat besar, tidak hanya bagi negara-negara yang terlibat langsung tetapi juga bagi stabilitas pasar energi global. Ancaman Iran untuk menyerang āinfrastruktur vitalā bisa berarti fasilitas minyak atau pelabuhan di negara-negara tetangga, memicu spiral konflik yang sulit dihentikan. Situasi ini menempatkan masyarakat sipil di kawasan tersebut dalam ketidakpastian besar, mempersiapkan diri untuk skenario terburuk alih-alih harapan akan resolusi damai.