Serangan udara besar-besaran Rusia kembali mengguncang Ukraina, menewaskan sedikitnya enam orang dan membuat ratusan ribu warga hidup tanpa aliran listrik. Ironisnya, gempuran ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan 'gencatan senjata energi' dalam perang yang sudah berjalan lebih dari empat tahun tersebut.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pihaknya melancarkan serangan masif ke infrastruktur komunikasi dan energi Ukraina. Target utama mereka meliputi dua pembangkit listrik dan pemanas di Kyiv, fasilitas serupa di Kharkiv, serta sebuah gardu induk listrik. Moskow juga mengaku menghancurkan pusat data di Kyiv yang dianggap digunakan untuk mengumpulkan intelijen militer mereka.
Dampaknya sangat fatal. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengimbau warga untuk tetap berlindung di bunker. Penyedia listrik swasta terbesar Ukraina, DTEK, melaporkan pemadaman darurat di beberapa distrik. Selain kerusakan infrastruktur, korban jiwa berjatuhan di distrik Desnianskyi dan Golosiivsky akibat serangan ke gedung bertingkat. Serangan juga dilaporkan terjadi di wilayah Dnipropetrovsk, Zaporizhzhia, Kharkiv, hingga Zhytomyr.
Presiden Volodymyr Zelenskyy menyuarakan kekecewaan mendalam. Ia menyebut mitra Baratnya gagal memberikan peringatan dini sebelum serangan rudal balistik terjadi. Menurutnya, Ukraina hanya mendeteksi rudal saat sudah mendekati Kyiv, sebuah situasi yang ia nilai 'sangat tidak adil'. Zelenskyy juga menuduh Rusia melanggar kesepakatan gencatan senjata energi yang baru saja diumumkan Trump, karena serangan tersebut menyasar tepat pada infrastruktur yang seharusnya dilindungi.
Analisis Dampak: Serangan ini tidak hanya melumpuhkan logistik militer Ukraina, tetapi juga memukul psikologis warga sipil yang harus bertahan di tengah cuaca dingin tanpa pemanas dan listrik. Kegagalan sistem peringatan dini dari NATO sekutu menunjukkan adanya celah intelijen yang berbahaya, sementara pelanggaran gencatan senjata menunjukkan diplomasi AS di bawah Trump belum mampu menahan agresi Moskow di lapangan.