Jakarta – Tim nasional sepak bola Iran tetap nekat bertolak ke Meksiko pada akhir pekan ini untuk menjalani pemusatan latihan (TC) jelang Piala Dunia 2026. Namun, di balik kepastian itu, ada satu masalah besar yang belum terpecahkan: status visa mereka untuk masuk ke Amerika Serikat (AS) belum jelas.
Iran tergabung di Grup G dan akan melawan Belgia serta Selandia Baru di Los Angeles, plus Mesir di Seattle. Masalahnya, AS dan Meksiko menjadi tuan rumah bersama turnamen ini. Tanpa visa AS, tim besutan Amir Ghalenoei itu bisa gagal tampil di pertandingan krusial.
Ketidakjelasan ini makin runyam setelah Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, angkat bicara. Ia dengan tegas menyatakan tidak akan membiarkan orang-orang yang punya hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyusup ke dalam delegasi timnas. "Kami tidak akan mengizinkan mereka menyematkan orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan olahraga, tapi punya kaitan dengan IRGC," ujar Rubio dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS.
Pernyataan Rubio ini jadi alarm keras. Sebab, Iran dikenal kerap menempatkan elemen militer atau intelijen di berbagai delegasi resmi. Kekhawatiran AS adalah oknum-oknum tersebut bisa memanfaatkan momen Piala Dunia untuk melakukan kegiatan spionase atau operasi lain di wilayah AS.
Situasi ini mengingatkan pada insiden bulan April lalu, saat delegasi Federasi Sepak Bola Iran dipulangkan dari Bandara Toronto, Kanada. Saat itu, mereka mengaku diperlakukan semena-mena oleh petugas imigrasi, meski sudah memegang visa resmi. Kejadian itu membuat mereka batal menghadiri pertemuan pra-Piala Dunia FIFA di Vancouver.
Analisis: Jika masalah visa ini tidak segera tuntas, bukan hanya nasib pemain yang terancam, tapi juga citra FIFA sebagai penyelenggara. Turnamen sepak bola seharusnya menjadi ajang pemersatu, bukan sandera politik. Namun, dengan tensi geopolitik yang memanas antara Iran dan AS, Piala Dunia kali ini berpotensi menjadi panggung ketegangan diplomatik yang nyata.