Los Angeles, AS – Gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat memicu perdebatan sengit di komunitas Iran-Amerika, khususnya di kawasan Westwood, Los Angeles, yang dikenal sebagai 'Tehrangeles'. Jutaan warga keturunan Iran di sana terbelah sikap saat Timnas Iran (Team Melli) bersiap melawan Selandia Baru di Piala Dunia.
Di satu sisi, banyak pengunjuk rasa yang menolak kehadiran tim sepak bola Iran. Mereka menganggap skuad 'Team Melli' adalah perpanjangan tangan dari pemerintah Iran yang otoriter. Spanduk dan protes direncanakan di sekitar stadion Los Angeles. Tokoh oposisi seperti Roozbeh Farahanipour, aktivis veteran, menegaskan, 'Ketika tim ini berlaga di kancah internasional, bagi saya mereka mewakili rezim yang membunuh teman dan keluarga saya.'
Namun, di sisi lain, banyak warga Iran-Amerika yang ingin menonton pertandingan tanpa politik. Sudi Farokhnia, seorang penggerak komunitas di LA, menganalogikannya dengan dukungannya terhadap Timnas AS. 'Saya sangat anti-Trump, tapi saat Tim AS main, saya pakai jersey AS. Saya tidak peduli politik mereka. Yang penting mereka mewakili negara saya,' ujarnya.
Ketegangan ini semakin runcing karena kebijakan Pemerintahan Trump yang melarang Timnas Iran bermarkas di AS. Alhasil, Team Melli harus bermarkas di Meksiko meskipun semua pertandingan grup mereka digelar di AS, yaitu dua laga di Los Angeles dan satu di Seattle.
Analisis: Perpecahan ini mencerminkan trauma politik yang mendalam di diaspora Iran pasca-Revolusi 1979. Bagi sebagian besar warga Iran-Amerika, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan simbol perlawanan atau justru alat rekonsiliasi. Situasi ini berpotensi memicu bentrokan kecil antara kelompok pro dan kontra rezim di luar stadion, yang harus diantisipasi ketat oleh aparat keamanan AS.