Jakarta – Kesepakatan kerjasama keamanan antara Rusia dan Taliban yang diteken pada 27 Mei lalu memicu tanda tanya besar. Meski isi Memorandum of Understanding (MoU) tersebut dirahasiakan, para pengamat menilai langkah ini justru bisa menjerumuskan Afghanistan ke dalam pusaran persaingan kekuatan global.
Dalam analisisnya, pakar hubungan internasional menilai perjanjian ini tidak akan banyak mendongkrak kepentingan nasional Afghanistan dalam jangka panjang. Pasalnya, Rusia dan China lebih fokus pada kepentingan mereka sendiri, seperti mencegah kelompok ekstremis dan menghentikan peredaran narkoba dari Afghanistan. Kedua negara itu dinilai belum memiliki investasi ekonomi besar yang bisa mendorong komitmen strategis jangka panjang.
Di sisi lain, Taliban tengah mencari celah untuk memperkuat posisinya di tengah meningkatnya ketegangan dengan Pakistan. Insiden lintas batas dan serangan yang dilaporkan terjadi di wilayah Afghanistan membuat situasi keamanan semakin genting. Ditambah lagi, kondisi militer Afghanistan kini lemah. Sebagian besar alat utama sistem persenjataan (alutsista) peninggalan pemerintah sebelumnya merupakan campuran buatan AS dan Rusia, sementara Amerika Serikat sudah tidak lagi memberikan dukungan.
Dampak dan Analisis: Kesepakatan ini menunjukkan bahwa Afghanistan menjadi ajang tarik ulur kepentingan negara-negara besar. Alih-alih membawa stabilitas, MoU ini justru berpotensi menjadikan Afghanistan sebagai 'papan catur' politik baru. Publik perlu mencermati apakah langkah ini akan membawa manfaat nyata atau justru memperpanjang penderitaan rakyat Afghanistan yang sudah lelah dengan konflik berkepanjangan.