Kuba kembali dilanda pemadaman listrik total setelah jaringan listrik nasionalnya ambruk pada Minggu malam (19/10) waktu setempat. Perusahaan listrik milik negara, UNE, mengumumkan keruntuhan ini melalui akun media sosial X namun belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab pasti, sejauh mana area terdampak, dan kapan pasokan listrik akan pulih. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik yang sudah lelah dengan krisis listrik berkepanjangan.
Sebelum kegagalan total tersebut, perusahaan listrik Havana telah melaporkan berbagai gangguan seperti kerusakan transformator, korsleting sirkuit, dan pemadaman bergilir akibat kapasitas pembangkit yang tidak mencukupi. Data dari kantor berita Reuters mencatat lusinan keluhan warga yang belum terselesaikan di sejumlah munisipalitas, termasuk Guanabacoa, Habana del Este, La Lisa, dan Marianao. Pemerintah biasanya mencoba memulihkan sistem dengan membangun jaringan isolasi kecil untuk memasok listrik ke rumah sakit, sistem air, dan fasilitas makanan sebelum menyambungkan kembali pembangkit utama.
Ini bukan yang pertama kali. Tahun ini saja, jaringan listrik Kuba telah ambruk tiga kali dalam sembilan hari pada bulan Juli, dengan dua di antaranya melumpuhkan seluruh pulau dalam pekan yang sama. Insiden tersebut membuat sekitar 10 juta warga terdampar tanpa listrik karena negara tidak mampu memproduksi daya yang cukup meskipun jaringan telah tersambung kembali.
Akar masalahnya sudah jelas: infrastruktur yang menua dan kelangkaan bahan bakar. Sebagian besar pembangkit listrik termal di Kuba berusia lebih dari 30 tahun dengan perawatan minim. Pemerintah Kuba menuding blokade ekonomi Amerika Serikat sebagai biang keladi, terutama setelah AS membatasi pasokan minyak dan akses pendanaan menyusul penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh AS pada 3 Januari. Venezuela selama ini menjadi pemasok minyak utama Kuba, dan impor dari Meksiko juga terhenti di tengah tekanan Washington.
Di sisi lain, para pengamat menilai krisis ini juga diperparah oleh puluhan tahun investasi yang minim dan buruknya tata kelola sektor energi. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat: transportasi macet, air bersih sulit didapat, komunikasi terputus, dan layanan medis terganggu. Warga pun kesulitan menyimpan makanan, memasak, hingga beristirahat di tengah panasnya malam tropis tanpa pendingin udara.