Tokyo, Jepang - Seorang pembuat film asal Uganda, Sunday, telah menghabiskan lebih dari 15 tahun hidup dalam ketidakpastian sebagai pencari suaka di Jepang. Meski pernah ditahan di pusat imigrasi Shinagawa, ia kini wajib lapor rutin ke otoritas dan bergantung pada bantuan amal untuk menghidupi anak-anaknya.
Perubahan undang-undang imigrasi Jepang yang semakin ketat membuat posisinya kian terancam. Sunday berisiko dideportasi ke negara asalnya. Namun, ia menolak menyerah pada keadaan. Sunday memilih melawan stigma dan ketidakadilan dengan cara yang tidak terduga: membuat film samurai.
Film tersebut terinspirasi dari kisah Yasuke, sosok yang dikenang sebagai samurai kulit hitam pertama di Jepang. Bagi Sunday, proses pembuatan film ini bukan sekadar proyek seni, melainkan bentuk perlawanan untuk mempertahankan martabat, harapan, dan eksistensinya di tengah tekanan hukum yang mengancam kebebasannya.
Kisah perjuangan Sunday ini didokumentasikan dalam sebuah film berjudul "Sunday in Japan" karya sutradara Antonio Rui Ribeiro, Leo Nelki, dan Golriz Kolahi. Dokumenter ini menyoroti sisi manusiawi dari krisis imigrasi yang seringkali hanya dilihat sebagai angka statistik semata.