SKANDAL VIEWS PALSU FILM BALASAN ISRAEL TERBONGKAR - Berita Dunia
← Kembali

SKANDAL VIEWS PALSU FILM BALASAN ISRAEL TERBONGKAR

Foto Berita

Investigasi mendalam dari Al Jazeera baru-baru ini membongkar manipulasi data yang dilakukan oleh pihak Israel terkait film balasan untuk dokumenter NAZA. Film kontra berjudul 'NAZA: The Real Story' diklaim telah ditonton lebih dari 44 juta kali, namun fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Investigasi yang melibatkan pengecekan registrasi domain, arsip web, hingga tiga alat analitik lalu lintas independen ini menemukan bahwa angka tersebut hanyalah ilusi untuk membangun opini publik.

Dokumenter asli NAZA sendiri merupakan karya yang mengguncang dunia. Film ini mengangkat kesaksian dari 24 mantan tentara Israel yang membocorkan penggunaan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyebabkan banyak korban sipil di Gaza. NAZA bahkan meraih penghargaan Special Jury Prize di Venice International Film Festival dan mendapatkan standing ovation selama 25 menit. Kesuksesan ini memicu kemarahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang mengancam akan mencabut kewarganegaraan para sutradaranya, Yuval Abraham dan Rachel Szor.

Untuk melawan gempita NAZA, sebuah situs web dengan domain nazadocumentary.com didaftarkan secara anonim pada 16 September. Awalnya, situs ini menyamar sebagai situs resmi NAZA, namun kemudian berubah menjadi platform film balasan berdurasi 49 menit. Pada 14 Oktober, situs tersebut memajang angka 43.758.421 penonton. Namun, data dari platform publik menunjukkan realitas yang jauh berbeda: versi lengkap film di YouTube resmi hanya meraup sekitar 130.000 penonton. Artinya, angka di situs web tersebut dilebih-lebihkan hingga 336 kali lipat dari jumlah sebenarnya.

Analisis tambahan dari platform pemantau lalu lintas web seperti Semrush mengonfirmasi adanya ketidakwajaran pada metrik yang disajikan. Kanal YouTube film balasan itu bahkan memiliki kurang dari 2.000 pelanggan, dan akun X (Twitter) mereka hanya diikuti oleh 170 orang. Temuan ini menyoroti bagaimana narasi digital dapat direkayasa untuk kepentingan politik, menciptakan ilusi dukungan massal yang tidak terjadi di dunia nyata.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook