Lampu lalu lintas di Ibu Kota Havana memang mulai menyala, namun sebagian besar wilayah Kuba masih diselimuti kegelapan. Jaringan listrik nasional negara itu kembali lumpuh total pada awal pekan, menyebabkan pemadaman masif yang melumpuhkan aktivitas. Meski pasokan listrik berangsur pulih di Havana, krisis energi akut di Kuba ternyata berakar pada ketegangan hubungan jangka panjang dengan Amerika Serikat.
Pemadaman listrik bukan barang baru di Kuba, sudah berlangsung sejak 2019 ketika pemerintahan AS (saat itu) di bawah Donald Trump menerapkan sanksi “tekanan maksimum”. Sanksi ini bertujuan menggerogoti ekonomi Kuba miliaran dolar per tahun, memaksa pemerintah memangkas impor bahan bakar karena ketiadaan dana. Situasi semakin parah. Sejak Januari lalu, Washington (pemerintah AS) memperketat blokade minyak total terhadap pulau tersebut. Selama hampir tiga bulan, praktis tidak ada minyak yang masuk ke Kuba. Padahal, Kuba sangat bergantung pada minyak untuk membangkitkan listriknya. Tak heran, pemadaman listrik menjadi semakin sering dan berlangsung lebih lama. Kondisi ini membuat standar hidup masyarakat di sana kian terpuruk.
Di tengah krisis, ada secercah harapan. Kedua negara "musuh lama" ini dikonfirmasi sedang bernegosiasi. Wakil Perdana Menteri Kuba, Oscar Perez-Oliva Fraga, bahkan mengumumkan bahwa warga Kuba yang tinggal di luar negeri, termasuk di Miami, AS, akan segera diizinkan untuk berinvestasi langsung dan memiliki bisnis di tanah air mereka. Reformasi pro-pasar ini menarik, sebab sejalan dengan pernyataan Washington yang menekankan pentingnya kesepakatan yang menguntungkan komunitas Kuba-Amerika di Florida. Meskipun detail negosiasi belum sepenuhnya jelas dan kemungkinan besar fokus pada reformasi ekonomi, masyarakat Kuba sendiri sangat berharap adanya kesepakatan. Blokade minyak yang membuat hidup semakin sulit membuat sebagian besar warga merindukan perubahan. Ini menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi bisa menjadi pendorong utama reformasi internal dan dialog diplomatik, meski kedua belah pihak masih menjaga gengsi politik mereka.