Warga Palestina di Hebron, Tepi Barat, kini menghadapi kenyataan pahit: kota mereka berubah menjadi seperti kota hantu. Bayangkan, hanya untuk berjalan 200 meter atau sekadar pergi ke toko, warga harus melewati tiga gerbang besi raksasa yang baru saja dipasang otoritas Israel. Gerbang-gerbang ini bukan sekadar penghalang fisik, tapi simbol penindasan yang membuat hidup sehari-hari jadi mimpi buruk.
Badr al-Tamimi (60), warga Kota Tua Hebron, mengungkapkan bahwa check point, gerbang besi, dan penutupan jalan telah mengubah tugas paling sederhana menjadi perjuangan melelahkan. Israel menciptakan zona yang disebut H2, di mana militer memegang kendali penuh dan warga Palestina hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Sejak Oktober 2023, hanya warga dengan nomor identitas tertentu yang boleh masuk, dan itu pun terbatas pada jam 7 pagi hingga 8 malam.
Data OCHA menunjukkan fakta mencengangkan: 40 persen dari 89 check point di Tepi Barat dan 11 persen dari 925 hambatan pergerakan berada di area H2 Hebron. Sekitar 7.000 warga Palestina terdampak langsung, sementara ratusan pemukim Israel hidup di tengah mereka dengan perlindungan militer. Walikota Hebron, Yousef al-Jabari, menyebut gerbang-gerbang ini dipasang di jalan-jalan vital seperti al-Zahid Road dan al-Shalala Street yang menghubungkan warga ke pusat perbelanjaan.
Dampaknya? Ekonomi Hebron lumpuh total. Toko-toko tutup, bisnis gulung tikar, dan akses ke Masjid Ibrahimi—salah satu situs suci Islam—sering diblokir berjam-jam. Al-Tamimi menegaskan, kehadiran mereka di Kota Tua bukan soal mencari keuntungan ekonomi, melainkan soal keteguhan hati untuk bertahan di tanah leluhur. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional bahwa Israel tengah melakukan pengusiran sistematis terhadap warga Palestina dari Hebron.