Di tengah kengerian perang saudara Yaman, semangat seorang bocah 10 tahun bernama Rafeef untuk menuntut ilmu patut diacungi jempol. Setiap pagi pukul 6, ia dan adiknya bersiap mengenakan seragam krem-cokelat. Namun, perjalanan mereka ke sekolah bukan sekadar menghindari kemacetan atau bus yang lewat, melainkan nyawa taruhannya.
Sekolah Rafeef terletak di atas gunung di Taiz, tepat di tepi lembah yang dijuluki 'no-man's land'βzona garis depan pertempuran sengit antara pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi dan pemberontak Houthi yang didukung Iran. Di satu sisi sekolah adalah wilayah pemerintah, sementara di sisi lain terdapat posisi sniper Houthi. Setiap kali berangkat, Rafeef harus berjalan mendaki dengan punggung membelakangi incaran sniper. "Saya takut," ujarnya jujur.
Meski begitu, Rafeef menolak berhenti. Baginya, sekolah adalah satu-satunya kesempatan bertemu teman-teman dan keluar rumah. Orang tuanya pun mendukung penuh demi masa depan yang lebih baik. Rafeef bercita-cita menjadi dokter. Keluarga mereka pindah ke Taiz sembilan tahun lalu untuk mencari perlindungan, namun kota itu juga tak luput dari gempuran. Dua tahun lalu, serangan mortir melukai lengan Rafeef hingga meninggalkan bekas luka.
Kondisi di Taiz kian memanas. Baru-baru ini, Houthi memutus jalur pasokan vital yang menghubungkan Taiz dengan Aden, membuat kota itu terkepung. Penduduk khawatir kota akan segera jatuh. Di sisi lain, pasukan pemerintah mengklaim telah merebut kembali titik-titik strategis di Selat Bab al-Mandab dan melancarkan serangan untuk merebut kembali ibu kota Sanaa.
Menurut data Unicef, sekitar 3,2 juta anak di Yaman sudah putus sekolah bahkan sebelum eskalasi terbaru. Ribuan anak tewas atau cacat, dan ribuan lainnya direkrut oleh kelompok bersenjata. Bagi Rafeef, sekolah adalah secercah harapan di tengah reruntuhan perang.