PARIS – Amerika Serikat dan Iran sepakat menjeda konflik bersenjata selama 60 hari. Kesepakatan ini ditandatangani di sela-sela KTT G7 di Prancis, Rabu (waktu setempat). Presiden AS Donald Trump menyebutnya sebagai kemenangan besar. Tapi, isi perjanjian setebal satu setengah halaman itu justru menyisakan banyak tanda tanya besar.
Poin paling krusial adalah soal penghentian program nuklir Iran. Trump mengklaim kesepakatan ini memastikan Iran tidak akan pernah bisa membuat bom atom. Namun, teks perjanjian yang bocor ke media hanya menyebut Iran setuju untuk 'menurunkan kadar' (downblending) stok uranium yang sudah diperkaya di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Detail teknis soal bagaimana dan kapan proses ini selesai, justru ditunda selama 60 hari ke depan.
Ini jadi ironi. Butuh waktu 20 bulan bagi pemerintahan Obama untuk merundingkan kesepakatan nuklir Iran di tahun 2015. Kini, Trump dan timnya hanya punya waktu dua bulan untuk menyelesaikan pakta final yang jauh lebih rumit. Banyak analis meragukan tenggat waktu ini cukup.
Soal uang juga menjadi celah politik yang sensitif. Trump dengan tegas mengatakan AS tidak akan mengucurkan satu sen pun ke Iran. Namun, dalam perjanjian disebutkan AS akan bekerja sama dengan mitra regional untuk mengumpulkan dana rekonstruksi Iran minimal 300 miliar dolar AS. Bahasanya memang kabur, tapi ini membuka peluang AS tetap membayar Iran di masa depan. Bagi basis pemilih MAGA yang anti-perang dan anti-intervensi, skema ini bisa menjadi bom waktu politik bagi Trump dan Wakil Presiden JD Vance.
Isu lain yang luput adalah penghentian pendanaan Iran untuk kelompok proxy seperti Hizbullah. Padahal, ini adalah salah satu alasan utama AS dan Israel memulai perang. Kesepakatan ini seperti menunda masalah besar tanpa menyentuh akarnya. Yang jelas, 60 hari ke depan akan menjadi babak baru negosiasi tingkat tinggi yang menentukan nasib kawasan.