Selama tiga tahun terakhir, Gaza telah mengalami kehancuran yang hampir menyeluruh. Seruan agar Hamas menyerahkan kekuasaan administratif dan meninggalkan wilayah tersebut semakin menguat. Banyak pihak berpendapat bahwa sayap politik dan militer kelompok ini harus dibubarkan agar Gaza memiliki masa depan yang layak. Namun, pertanyaan tentang nasib Hamas sesungguhnya bukanlah satu-satunya kunci untuk memulihkan Gaza.
Mengutip analisis dari Al Jazeera, akar permasalahan di Gaza jauh lebih dalam daripada keberadaan kelompok bersenjata tertentu. Krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini berkaitan erat dengan sejarah panjang konflik Palestina-Israel yang sudah ada jauh sebelum Hamas berdiri. Hamas tidak ada pada tahun 1948, saat ratusan desa Palestina dihancurkan dalam peristiwa Nakba. Kelompok ini juga belum terbentuk pada tahun 1967, ketika Israel memulai pendudukan militer atas Gaza dan Tepi Barat serta mencaplok Yerusalem Timur.
Selama beberapa dekade pendudukan, struktur sosial Palestina mengalami perubahan besar. Jumlah masjid lokal meningkat pesat dari 200 menjadi 600 antara tahun 1967 dan 1987, sementara kepemimpinan nasionalis sekuler mulai memudar. Kondisi ini menciptakan ruang bagi munculnya faksi nasionalis berbasis agama. Intifada Pertama pada tahun 1987 menjadi titik balik politik yang memicu berdirinya Hamas, yang didirikan oleh tokoh-tokoh yang lahir dari keluarga pengungsi akibat perang.
Bagi masyarakat umum, pemahaman ini penting agar tidak melihat konflik secara hitam-putih. Upaya perdamaian tidak akan berhasil jika hanya berfokus pada penghancuran satu kelompok tanpa menyelesaikan akar masalah sejarah, pendudukan, dan penderitaan kemanusiaan yang telah berlangsung puluhan tahun.