KHAWATIR DIBUNUH, AS PERINGATKAN IRAN SOAL ISRAEL - Berita Dunia
← Kembali

KHAWATIR DIBUNUH, AS PERINGATKAN IRAN SOAL ISRAEL

Foto Berita

Washington, DC – Sebuah laporan mengejutkan mengungkap bahwa Amerika Serikat (AS) diam-diam memperingatkan Iran tentang kemungkinan plot pembunuhan yang didalangi oleh sekutunya sendiri, Israel. Peristiwa ini terjadi di tengah negosiasi paling sensitif di Timur Tengah dalam satu generasi terakhir.

Berdasarkan laporan The New York Times yang dikonfirmasi oleh dua pejabat AS kepada CNN, Washington khawatir Israel berencana membunuh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Kedua tokoh ini memimpin perundingan dari pihak Teheran.

Yang membuat situasi ini unik adalah karena AS tidak bisa memerintahkan sekutunya untuk mundur. Sebagai gantinya, mereka justru memperingatkan musuh mereka (Iran) tentang teman mereka sendiri (Israel). Sikap ini menunjukkan betapa gentingnya situasi yang dihadapi pemerintahan Joe Biden saat itu.

Menurut laporan yang sama, serangan Israel sebelumnya dalam perang telah menewaskan Ali Larijani dan Kamal Kharazi, dua tokoh pragmatis yang sangat diharapkan AS untuk diajak berunding. Kematian mereka memaksa jalur komunikasi beralih ke Araghchi dan Ghalibaf. Bahkan, Ghalibaf sendiri dilaporkan selamat dari dua upaya pembunuhan oleh Israel.

Analisis Dampak
Insiden ini menunjukkan dilema besar dalam hubungan AS-Israel. Dalam teori resolusi konflik, aktor yang melihat proses perdamaian sebagai ancaman disebut sebagai 'spoiler' atau perusak. Biasanya, spoiler dari luar proses dianggap paling berbahaya. Namun dalam kasus ini, 'spoiler' justru berasal dari dalam aliansi AS sendiri.

Para ahli mencatat bahwa aksi spoiler biasanya terjadi ketika negosiasi hampir mencapai kesepakatan nyata. Saat itu, AS dan Iran baru saja menyetujui gencatan senjata sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Di saat yang sama, Iran sedang berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas di hari pertama perang.

Kombinasi antara momentum politik yang rapuh dan simbolisme masa berkabung menciptakan kondisi yang sempurna untuk aksi sabotase. Ini membuktikan bahwa dalam diplomasi, kadang sekutu bisa menjadi ancaman yang lebih besar dari musuh.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook