Siapa sangka, di Inggris modern, hak untuk menikmati hijaunya alam bebas masih jadi barang mewah bagi sebagian orang hanya karena warna kulit mereka? Fenomena ini bukan isapan jempol, melainkan akar dari sejarah panjang diskriminasi yang kini coba dilawan oleh komunitas kulit hitam dan berwarna.
Selama berabad-abad, komunitas kulit berwarna (People of Color/POC) di berbagai belahan dunia menghadapi penolakan akses ke lahan publik, bahkan terasing dari tanah mereka sendiri akibat kolonialisme dan kekerasan. Di Inggris, ironisnya, tantangan itu masih terasa. Sekadar jalan-jalan di hutan bisa sangat mahal atau terganjal berbagai rintangan, mulai dari rasisme di pedesaan hingga infrastruktur yang kurang memadai.
Data menunjukkan, meski POC membentuk 13% populasi Inggris, mereka hanya menyumbang 1% dari pengunjung taman nasional. Kondisi inilah yang mendorong Sam Siva, seorang aktivis sekaligus anggota kolektif 'Land in Our Names', untuk bergerak. Kolektif ini bertujuan untuk kembali menyatukan komunitas kulit hitam dan POC di Inggris dengan alam dan tanah, yang sering kali terasa jauh.
'Land in Our Names' (LION) adalah kolektif kecil yang berfokus pada persimpangan keadilan iklim, keadilan tanah, dan keadilan rasial. Mereka percaya, untuk membebaskan semua orang, penting untuk menyembuhkan kembali hubungan dengan tanah dan mencapai penentuan nasib sendiri melalui cerita dan berbagi pengalaman. Mereka telah memproduksi podcast, zine, melakukan riset tentang pengalaman petani kulit hitam di Inggris, serta mengadakan banyak acara diskusi dan berbagi keterampilan, baik di London maupun di ruang-ruang alam pedesaan.
Jangka panjangnya, LION bercita-cita membangun sebuah ruang dan lingkungan di mana komunitas bisa belajar keterampilan seperti bertani atau agroforestry (sistem pertanian yang mengombinasikan pohon dan tanaman pertanian). Tempat ini juga diharapkan menjadi lokasi istirahat, penyembuhan, dan berkumpulnya komunitas. Mereka ingin mengubah paradigma kepemilikan tanah dari yang sifatnya pribadi dan patriarkal menjadi kolektif.
Sam Siva juga menyoroti konsep 'reparasi tanah' yang mereka usung. Menurutnya, ini bukan hanya soal sumber daya, tapi juga tentang 'perbaikan' hubungan yang telah rusak. Banyak anggota komunitas kulit hitam dan POC di Inggris tumbuh di perkotaan, membuat koneksi mereka dengan alam terputus. Contoh nyatanya, Desember lalu, halaman Facebook grup 'Muslim Hikers' dibanjiri ujaran rasis saat mereka berjalan-jalan di Taman Nasional Peak District. LION ingin memperbaiki luka itu, karena sejatinya semua orang berhak atas alam dan punya tempat di dalamnya. Berada di ruang hijau terbukti sangat baik untuk kesehatan mental, dan hak ini seharusnya berlaku untuk semua tanpa terkecuali.