Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat (AS) mengajukan proposal gencatan senjata untuk meredakan ketegangan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Seorang pejabat AS mengungkapkan hal ini kepada Al Jazeera, Minggu (16/4).
Dalam proposal yang disebut sebagai 'peta jalan' tersebut, Hizbullah diminta menghentikan semua serangan terhadap Israel. Sebagai imbalannya, Israel tidak akan melakukan eskalasi lebih lanjut di Beirut, ibu kota Lebanon. Tujuan akhirnya adalah menciptakan lingkungan yang kondusif untuk de-eskalasi bertahap dan penghentian total permusuhan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dilaporkan telah mengadakan pembicaraan terpisah dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, langkah ini terjadi di tengah serangan darat Israel yang semakin dalam. Militer Israel baru saja merebut Kastil Beaufort, sebuah benteng bersejarah di selatan Lebanon, yang merupakan pendudukan terdalam Israel dalam beberapa dekade terakhir.
Perdana Menteri Netanyahu justru memerintahkan serangan ke pinggiran selatan Beirut, markas besar Hizbullah, dan menyebut operasi di Kastil Beaufort sebagai 'pergeseran dramatis' dalam kampanye melawan kelompok tersebut. Lebih dari satu juta orang telah mengungsi akibat pertempuran yang dimulai pada 2 Maret lalu.
Analisis: Proposal AS ini ibarat menawarkan api di tengah badai. Di satu sisi, Washington ingin meredakan situasi agar tidak meluas menjadi perang regional. Namun di sisi lain, tindakan Israel yang terus melakukan penetrasi ke Lebanon justru menunjukkan bahwa gencatan senjata masih jauh dari kata terwujud. Tudingan AS yang menempatkan Hizbullah sebagai biang keladi juga menuai kritik, mengingat Israel telah berulang kali melanggar gencatan senjata sebelumnya. Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya mediasi Timur Tengah, di mana setiap langkah damai selalu dibayangi oleh kepentingan militer dan politik masing-masing pihak.