Chile tengah dilanda musibah besar. Kebakaran hutan hebat mengamuk di dua wilayah selatan negara itu, Biobío dan Ñuble, memaksa lebih dari 50.000 warga mengungsi dari rumah mereka. Otoritas mengonfirmasi, setidaknya 16 orang tewas akibat bencana ini.
Menteri Keamanan Luis Cordero dalam konferensi pers Minggu (waktu setempat) melaporkan 15 kematian terjadi di wilayah Biobío, menambah daftar korban setelah sebelumnya satu orang tewas di Ñuble. Kedua wilayah yang terletak sekitar 500 kilometer selatan ibu kota Santiago ini memang menjadi pusat amukan api.
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, Presiden Gabriel Boric dengan sigap mendeklarasikan status darurat di Biobío dan Ñuble. Melalui akun X (sebelumnya Twitter), Boric memastikan "semua sumber daya tersedia" untuk mengendalikan api. Deklarasi ini membuka jalan bagi pasukan bersenjata Chile untuk turut membantu upaya pemadaman.
Sebagian besar evakuasi dilakukan di kota Penco dan Lirquén, wilayah Biobío, yang dihuni sekitar 60.000 penduduk. Menteri Dalam Negeri Alvaro Elizalde menyatakan kondisi cuaca buruk, terutama suhu ekstrem yang diperkirakan terjadi beberapa hari ke depan, bakal mempersulit tim pemadam. "Kami menghadapi situasi yang rumit," imbuhnya.
Hingga kini, api telah melahap sekitar 85 kilometer persegi hutan di Biobío dan Ñuble, menyebabkan evakuasi besar-besaran dan menghancurkan sedikitnya 250 rumah. Ini bukan kali pertama Chile selatan dilanda kebakaran hutan parah. Februari 2024 lalu, kebakaran serupa menewaskan lebih dari 130 orang, yang disebut Boric sebagai "tragedi terbesar" sejak gempa bumi 2010.